Minggu, 11 Oktober 2009

Jasa Konsultasi Skripsi : Disyukuri atau Dikutuk ?

Jasa konsultasi skripsi tumbuh bak jamur. Semula jasa semacam itu diberikan secara perseorangan dan diam – diam antar teman. Layanan meningkat menjadi jasa pemrosesan data statistik dengan program komputer. Kemudian meningkat menjadi jasa menginterpretasi dan menuliskan hasil. Lama kelamaan, jasa meningkat sampai memilihkan judul, menyediakan data, bahkan sampai membuatkan secara penuh suatu skripsi. Kegiatan antar teman meningkat menjadi kegiatan professional yang berbentuk usaha yang mengiklankan dikoran local. Di internetpun tersedia sarana untuk membeli skripsi atau tesis. Pemiinat tinggal mengunjungi www.skripsiekonomi.com dan dapat membeli skripsi dengan judul apapun dengan harga sekitar Rp 750.000 perskripsi dan skripsi tadi diantar kerumah.
Peserta program S3 yang berduit konon membentuk tim sukses dari kalangan akademik untuk menyelesaikan disertasi dengan bayaran yang mendorong akademis melanggar integritas akademik. Program studi Magister Manajemen UGM pernah mengirim staffnya untuk pura – pura akan menggunakan jasa konsultan tersebut. Bisnis ini ternyata mempunyai perpustakaan berupa ratusan skripsi, tesis dan disertasi. Tidak diketahui bagaimana penyedian jasa ini memperolehnya. Jasa yang diberikan antara lain sekedar memfotokopi skripsi yang sesuai dengan topik sampai pembuatan skripsi tersebut (mengetikkan proposal, menyarankan jawaban atas pertanyaan bimbingan, merevisi sampai skripsi disetujui, menjilidkan, dan latihan ujian pendaftaran). Beberapa pemberi jasa memberi garansi DIJAMIN SAMPAI LULUS. Konon tarif untuk pembuatan skripsi berkisar antara Rp 1 sampai Rp 1,5 juta. Untuk tesis harga dapat mencapai Rp 2,5 juta. Pemberi jasa kebanyakan adalah lulusan S2 bahkan S3 perguruan tinggi terkenal. Salah satu pemberi jasa mengakui bahwa penghasilan sebulan kadang – kadang dapat mencapai lebih dari Rp 10 juta.
Ketika ditanya apakah jasa semacam itu tidak menimbulkan hal yang kurang baik dan etis dalam konteks pendidikan nasional dan tujuan penulisan skripsi, seorang pemberi jasa yang cukup professional mengatakan : “Nyatanya banyak yang datang ke saya dan tidak ada peraturan yang melarang. Juga, nyatanya banyak yang menyelenggarakan bisnis seperti ini. Ini berarti ada permintaan. Ada permintaan ada penawaran. Ini hukum ekonomi, jangan berfikir masalah etika atau hukum. Etika tidak ada tempatnya dalam dunia bisnis. What is legalis ethical. Semuanya sah – sah saja.”
Seorang pengguna jasa yang telah lulus sebagai seorang sarjana mengakui : “Saya memang menggunakan jasa konsultan karena mudah ditemui dan dihubungi. Konsultasinya juga enak dan lebih baik dari dosen pembimbing saya. Dosen saya sering tidak membaca proposal saya dan sulit ditemui. Dosen juga tidak membimbing dengan baik dan jelas sehingga saya bingun apa yang harus saya kerjakan dan dimana kekurangan skripsi saya. Setelah saya konsultasi dengan jasa pembimbing, saya mendapat pengarahan yang baik bahkan setengahnya dibuatkan saran – saran perbaikan. Saya juga belar banyak dari pemberi jasa. Setelah saya ajukan ke dosen pembimbing, ternyata dosen saya terkesan dan mengACC skripsi saya.”
Mahasiswa pengguna jasa yang nasih menyusun skripsi mengatakan : “Mengapa harus repot – repot nulis skripsi. Yang penting jadi dan lulus karena toh skripsi tidak dibutuhkan dalam pekerjaan. Katanya skripsi adalah karya ilmiah tapi di PT saya mahasiswa dilarang baca skripsi. Mahasiswa tidak boleh meminjam skripsi diperpustakaan tanpa ijin dosen pembimbing. PT lain malah banyak yang tidak mensyaratkan skripsi. Saya pikir syarat skripsi adalah mengada ada.”
Para dosen yang dimintai tanggapan mengenai hal ini menyatakan bahwa mereka tidak mempunyai cara untuk mengecek apakah skripsi merupakan hasil pekerjaan menyontek atau hasil pembimbingan komersial. Pokoknya kalau mahasiswa dapat menjelaskan dengan baik apa yang ditulisnya para dosen sudah cukup puas dengan skripsi tersebut. “Saya sendiri tidak setuju adanya skripsi. Skripsi hanya membebani dosen. Yang realistik saja, saya tidak mungkin membimbing 10-15 mahasiswa dalam satu semester dan kalau tidak selesai dalam satu semester pekerjaan semakin menumpuk. Karena dipaksakan, akhirnya apapun yang diajukan mahasiswa saya setujui saja.”
Pihak Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi atau yang berwenang sekalipun masih bergeming mengenai hal ini. Mungkin fenomena ini masih dianggap wajar sehingga mereka tidak perlu gegabah menangaini masalah ini. Mereka tampaknya bersikap “wait and see.”



1. Siapa sajakah pihak yang berkepentingan atau stakeholders (pemegang pancang) dalam kasus di atas (baik eksplisit maupun implisit) ?
Jawab :
• Para pengguna jasa yang melakukan permintaan seperti mahasiswa, pejabat bahkan selebriti yang tidak mempunyai waktu tetapi ingin mengambil gelas sarjana dan lain sebagainya.
• Dosen – dosen yang menjadi pembimbing skripsi, tesis dan lain – lain.
• Pelaku jasa yang menjalankan usaha karena adanya permintaan.
• Direktur Jendral Pendidikan Tinggi yang menjadi pengawas dan pemerhati pendidikan.

2. Evaluasilah argument tiap pihak yang terlibat dari prinsip atau teori hak
(right), keadilan (justice), utilitarianisme (utilitarianism), egois (egoism), dan kelukaan (harm)!
Jawab :
•Teori hak (right)
Dalam hal ini mahasiswa memiliki hak untuk mendapatkan bimbingan dari dosen pembimbingnya hingga tugas skripsinya selesai.
• Keadilan (justice)
Direktur Jendral Pendidikan Tinggi juga tidak dapat mengambil tindakan apapun karena mungkin belum ada Undang – Undang yang mengatur tentang pelarangan sebuah jasa pembuatan skripsi atau tesis. Jelasnya peraturan mengenai bisnis - bisnis seperti ini harus segera dikeluarkan dan peraturan tersebut harus dapat memberikan keadilan yang sebagaimana mestinya.
• Utilitarianisme (utilitarianism)
Walaupun pemberi jasa dalam kasus ini mengatakan bisnis ini sah – sah saja akan tetapi dari segi Utilitarianisme bisnis ini tidak akan mendatangkan manfaat yang lebih bagi konsumennya, karena tujuan dari skripsi adalah memberikan pengetahuan, kemandirian dan pengalaman mahasiswa namun tujuan tersebut tidak tercapai karena adanya jasa kosultasi tersebut, sehingga jasa konsultasi tersebut justru mengurangi manfaat yang ada.
•Egois (egoism)
Pemberi jasa tidak memperdulikan apa dampak yang akan terjadi pada konsumen mereka maupun orang lain, mereka hanya menjalankan sesuai permintaan dan mendapatkan keuntungan yang cukup lumayan.
•Kelukaan (Harm)
Berdasarkan pernyataan diatas Dosen tidak mengetahui mahasiswa mana yang menggunakan jasa tersebut atau tidak, yang penting ia dapat menjelaskannya dengan baik hal ini tentunya sangat merugikan para mahasiswa yang berusaha mengerjakan skripsi dengan usahanya sendiri karena posisi mereka dalam pemberian nilai disama ratakan dengan mahasiswa yang menggunakan jasa tersebut.

3.Setujukah anda dengan pernyataan tiap pihak dalam kasus? Dapatkah tiap pihak dikatakan bersikap tidak etis?
Jawab :
• Saya tidak setuju dengan pernyataan dari mahasiswa yang menggunakan jasa tersebut dan dosen pembimbing pada kasus diatas, karena menurut saya dosen pembimbing dan mahasiswa pada kasus diatas tidak etis. Hal tersebut bisa dikatakan tidak etis karena etika adalah hal yang berkaitan dengan nilai – nilai, tata cara hidup yang baik, aturan hidup yang baik, dan segala kebiasaan yang dianut dan diwariskan dari satu orang ke orang lain atau dari satu generasi ke generasi lain. Dan jika kita lihat dalam kasus ini jelas bahwa, pembuatan skripsi yang seharusnya atau menurut aturan yang biasanya dilakukan adalah dikerjakan sendiri oleh mahasiswanya dan dosen pembimbing memang tugasnya membimbing mahasiswanya hingga mahasiswa tersebut selesai dalam pembuatan skripsinya.
• Selain itu pernyataan mahasiswa yang menyatakan bahawa skripsi tidak diperlukan di dunia kerja menurut saya itu tidak benar. Mungkin jika kita lihat sebagai syarat kerja tidak akan begitu berpengaruh, tetapi jika lihat dari sisi pengetahuan, dan pengalaman yang kita dapat, skripsi mempunyai manfaat yang sanngat penting bagi mahasiswa tersebut, karena salah satu tujuan skripsi adalah mempraktekkan apa yang yang telah kita pelajari selama ini dengan data – data dan keadaan yang rill atau benar – benar terjadi dimana yang selama ini kita pelajari mungkin hanya sebuah contoh kasus saja, sehingga hal ini akan membekali kita saat masuk ke dunia kerja nantinya.

4. Masalah etis apa saja yang ditimbulkan oleh adanya jasa konsultasi?
Jawab :
• Tugas skripsi yang menurut aturannya dikerjakan oleh mahasiswa itu sendiri tapi dikerjakan oleh orang lain membuat bisnis ini menjadi tidak etis sehingga dampak yang ditimbulkan dapat melemahkan kemandirian mahasiswa tersebut, pengetahuan mahasiswapun tidak akan berkembang.

5. Haruskah jasa bimbingan/konsultasi skripsi dilarang? Jelaskan argumen anda dari sudut pandang etika!
Jawab :
Menurut saya bisnis ini harus dilarang karena bisnis ini dapat merugikan mahasiswa yang mengerjakan skripsi tanpa menggunakan jasa konsultasi ini atau mengerjakannya sendiri, tentunya nilai yang diberikan tidak sebanding dengan pengorbanannya. Suatu bisnis dikatakan etis jika tidak menyimpang dari aturan - aturan atau kebiasaan – kebiasaan yang sudah ada. Bisnis ini memberikan jalan mudah dalam membuat skripsi dengan cara menjual skripsi yang telah jadi kepada para mahasiswa yang seharusnya mengerjakan skripsi dengan usahanya sendiri, tentu saja hal ini menyimpang dari aturan – aturan atau kebiasaan – kebiasaan yang sudah ada sehingga dapat merugikan orang – orang yang mengikuti kebiasaan – kebiasaan tersebut. Selain itu bisnis ini tidak mengarahkan kita kearah hidup yang lebih baik karena bisnis ini akan mengurangi kemandirian kita dan pengetahuan kita sehingga dampak ini akan lebih terasa saat kita sudah memasuki dunia kerja nanti.

6. Bagaimana pandangan anda terhadap prinsip etika bisnis “what is legal is ethichal” (asal tidak melanggar hukum ya etis)?
Jawab :
Saya tidak setuju terhadap prinsip tersebut.
Alasan :
Karena hukum dan etika itu berbeda, hukum adalah undang – undang atau peraturan yang mempunyai sanksi yang jelas, sedangkan etika adalah kebiasaan – kebiasaan tentang cara hidup yang baik, yang dianut dan diwariskan dari satu orang ke orang lain atau dari satu generasi ke generasi lain yang tidak mempunyai sanksi yang jelas. Sehingga belum tentu suatu hal yang tidak melanggar hukum bisa dikatakan etis.

Sabtu, 10 Oktober 2009

STEALTH MARKETING: Permasalahan Etika Dalam Praktek Pemasaran Terkini

Kelas 4EA01

Disusun Oleh :
Muhamad Arief Pratama 10206635
Prabu Teguh Wibowo 10206727
Sigit Dwi Purnomo 10206914


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Persaingan di antara perusahaan untuk mendapatkan pelanggan bukan merupakan hal yang aneh lagi. Perusahaan giat melakukan banyak kegiatan pemasaran, beberapa praktisi pemasaran memperkirakan bahwa konsumen disuguhi kurang lebih dari 1000 buah iklan setiap harinya (Marsden, 2006 dan Shenk, 1998). Di Indonesia sendiri, menurut penelitian dari lembaga ACNielsen tingkat kepadatan iklan televisi mencapai angka kurang lebih 1000 buah iklan per minggu. Rata-rata orang dewasa Indonesia menonton iklan televisi sebanyak 850 buah iklan per minggu, sedangkan ibu-ibu rumah tangga menonton iklan lebih banyak lagi yakni 1200 buah iklan per minggu (Kuswati, 2007).
Tingginya tingkat kepadatan iklan (televisi) dan banyaknya jumlah iklan yang ditonton oleh masyarakat menjadikan iklan sebagai salah satu alat pemasaran yang dapat memiliki pengaruh pada masyarakat. Iklan dapat memberikan pengaruh positif jika iklan tersebut bersifat mendidik dan sebaliknya dapat memberikan pengaruh negatif jika tidak mendidik. Bersifat mendidik dalam artian iklan tersebut tidak memberikan informasi yang terlalu berlebihan, dan menyesatkan dalam membujuk konsumen.
Terdapat beberapa iklan yang diberikan kepada konsumen bersifat tidak mendidik. Hal ini dapat menjadi ancaman serius bagi pelanggan, karena dapat menciptakan mind-set yang cenderung tidak masuk akal (logika) bagi konsumen dan merusak moral masyarakat. Di samping itu iklan yang bersifat tidak mendidik, juga memiliki arti iklan tersebut tidak memberikan informasi yang benar dan jelas kepada konsumen, sehingga konsumen seringkali dibodohi. Salah satu bentuk pemasaran yang kemungkinan dapat menciptakan konsumen yang tidak terdidik adalah stealth marketing. Oleh karena itu, kami tertarik untuk membahas tentang stealth marketing yang ditulis oleh Henky Lisan Suwarno dan Bram Hadianto Universitas Kristen Maranatha, Bandung, Indonesia
. Pembahasan yang dilakukan berupa penjelasan secara lebih dalam mengenai konsep dari stealth marketing dan permasalahan etika yang dapat dimunculkannya.

BAB II
PEMBAHASAN

Stealth marketing didefinisikan sebagai penggunaan praktek-praktek pemasaran yang tidak menunjukkan hubungan yang sebenarnya dengan perusahaan-perusahaan yangmensponsorinya (Martin dan Smith, 2008). Stealth marketing kadang dimaksudkan untuk menciptakan word of mouth positif, atau “buzz” dari sebuah produk, oleh karena itu tidak heran kalau stealth marketing ini juga memiliki keterkaitan dengan “buzz marketing” atau “word of mouth marketing.” Secara khusus, Word of Mouth Marketing Association (2007) mendefinisikan buzz marketing sebagai “memberikan sebuah alasan kepada orang untuk berbicara tentang produk atau jasa anda, dan membuat hal tersebut lebih mudah untuk berbicara.
”Dalam pemasaran konvensional, terdapat tiga informasi antara lain product knowledge, persuasion knowledge dan agent knowledge (Martin dan Smith, 2008). Product knowledge artinya dalam komunikasi pemasaran terdapat informasi mengenai produk yang dipasarkan, misalnya fitur-fitur yang terdapat dalam produk. Persuasian knowledge artinya dalam komunikasi pemasaran terdapat unsur membujuk terhadap konsumen secara terangterangan. Agent knowledge artinya terdapat agen pemasaran yang membujuk konsumen secara terang-terangan. Secara terang-terangan artinya orang yang melihat dan mendengar sebuah komunikasi pemasaran mengetahui perusahaan mana yang mensponsorinya.
Dalam stealth marketing, tiga informasi di atas tidak diperlihatkan secara terang-terangan. Stealth marketing dipertimbangkan dapat menjadi alternatif yang baik dari pemasaran konvensional karena dipersepsikan sebagai pemasaran yang lebih halus dan lebih pribadi daripada pemasaran tradisional. Oleh karena itu stealth marketing dapat menjadi teknik pemasaran yang dapat bertahan lama. Pada dasarnya, stealth marketing berupaya untuk menyajikan sebuah produk atau jasa baru dengan menciptakan “buzz” dalam sebuah cara yang tersembunyi. Stealth marketing menyajikan produk dengan fitur-fitur menarik yang dapat membuat orang yang melihatnya terkesan dengan produk yang ditawarkan. Tujuan utama dari pemasaran seperti ini adalah mendapatkan orang yang tepat untuk dapat memasarkan produk atau jasa tanpa terlihat disponsori oleh perusahaan. Esensinya, pemasaran seperti ini menciptakan sebuah kondisi word-of-mouth yang positif, sehingga akan memunculkan konsumen-konsumen yang dapat memasarkan produk secara spontan. Pada akhirnya, pesan yang dimunculkan dalam komunikasi pemasaran tersebut dapat tersebar mulai dari trendsetter kepada para konsumen.
Pesan dari komunikasi pemasaran tersebut dapat disampaikan dalam beberapa cara: secara fisik (selebritis atau trendsetters mungkin terlihat dengan merek yang dipasarkannya), secara verbal (orang-orang mungkin membicarakan merek dalam percakapan secara on-air maupun off-air), secara virtual (pesan dapat disebarkan melalui internet chatrooms, newsgroup, atau weblogs). Jika konsumen suka pada produk atau jasa baru tersebut, mereka akan mengatakannya kepada teman-teman dan kolega, sehingga tidak menutup kemungkinan pesan tersebut akan tersebar luas. Dengan menghubungkan produk dengan gaya hidup penerima pesan, stealth marketing memasarkan produk dan jasa dengan cara yang paling halus dibanding yang lain.
Pendapat lain mengenai stealth marketing adalah dikemukakan oleh Kafi Kurnia, praktisi pemasaran yang menulis buku “Anti-Marketing”. Stealth marketing menurutnya dikatakan sebagai pemasaran antiradar, karena konsumen tidak mengetahui kalau dirinya merupakan obyek pemasaran. Strategi ini memang bisa dibilang nakal karena memiliki nuansa memperdaya konsumen. Contoh klasiknya adalah trik London Cake Creative Consultancy di Newcastle. Mereka membuang kemasan kosong produk minumannya, Kratingdaeng di berbagai tong sampah dekat bar dan pub di sekitar kota untuk menimbulkan kesan seolah produknya amat digandrungi.
Menurut Kafi, salah seorang rekannya di Indonesia sudah meniru cara ini ketika membuka restoran baru. Di pekan awal pembukaan restoran, ia meminjam mobil teman sebanyak-banyaknya untuk diparkir di depan restorannya sehingga memancing orang penasaran dan mampir mencicipi hidangannya. Teknik sederhana itu ternyata memang tulen sakti. Orang yang lewat dibuat penasaran dan akhirnya ikut berhenti, serta mencoba restorannya. Trik ini berhasil membuat restorannya laris tanpa harus mengeluarkan biaya iklan sepeser pun.
Pemasaran antiradar juga sering dilakukan para agen dan distributor mobil. Caranya, mereka membanjiri jalan-jalan utama ibu kota dengan mobil-mobil yang baru saja diluncurkan. Lagi-lagi motivasinya untuk menggelitik dan merangsang rasa penasaran. Konsumen menjadi terpikat, karena seringnya melihat mobil-mobil baru itu di jalan. Cara itu pula yang ditempuh Toyota dengan merek Scion, yang diluncurkan 9 Juni lalu di California. Karena tahu sekarang ini mereka yang berumur 18-25 tahun tengah merancang sebuah generasi internet diperkirakan pada 2010 ada 60 juta warga di Amerika yang familier dengan internet Scion pun mengarahkan pemasarannya ke sana.
Para dealer sengaja memarkir Scion di depan toko-toko musik di California. Menawari para calon langganan untuk mencoba mobil baru Scion, sambil memberikan suvenir cuma-Cuma seperti CD musik. Mobil-mobil Scion juga diparkir di lapangan parkir gedung-gedung konser musik, untuk pamer. Scion tidak lagi diiklankan lewat TV, karena pemasar antiradar kebanyakan antiiklanTV. Brosur-brosur Scion hanya disebarkan lewat majalah-majalah gaya hidup generasi internet. Tujuannya, agar Scion tidak menjadi asal merek kebanyakan, melainkan sebuah merek yang berinteraksi dengan generasi internet, sehingga diakui dan diadopsi oleh generasi internet sebagai merek yang mencirikan kepribadian mereka.
Scion saat ini tengah mendapat perhatian dan menjadi buah bibir berkat pemasaran antiradar mereka yang cukup kontroversial. Pemasaran antiradar atau stealth marketing menjadi trend baru. Berkat pendekatannya yang artistik. Yaitu bukannya berteriak kencang, melainkan cukup berbisik dan melirik. Tapi, kadang bisikan jauh lebih dahsyat dari suara berisik. Berbisik bisa lebih intim. Suaranya mungkin jauh lebih perlahan, tapi kalau langsung masuk kuping, dan menyentuh pancaindra kita, intensitasnya terasa jauh lebih nyaring. (www.Gatra.com dan www.jakartaconsultinggroup.com)
Pertumbuhan Kepopuleran Stealth Marketing
Pertumbuhan kepopuleran stealth marketing didorong oleh tiga faktor yang ikut berkontribusi dalam mengurangi efektivitas dari iklan televisi dan teknik-teknik periklanan lainnya (Kaikati M.A dan Kaikati G.J, 2004).

1. Tumbuhnya kritik terhadap industri periklanan secara umum
Terdapat dua buku yang berisi tentang kritik terhadap industri periklanan yang dipublikasikan pada tahun 2002. Sergio Zyman memiliki argumen bahwa waktu 30 detik dari iklan di televisi tidak cukup untuk membangun awareness (perhatian) dari penonton, oleh karena itu industri periklanan harus memikirkan ulang cara pemasaran seperti itu. Al dan Laura Ries juga memiliki argument bahwa Public Relation (PR) seharusnya terlebih dahulu dilakukan untuk memasarkan produk inovasi baru, dan kemudian diikuti oleh iklan.
Efektivitas biaya periklanan menjadi penyebab mengapa mereka memberi rekomendasi kepada kita untuk melakukan teknikteknik pemasaran non-tradisional. Al dan Laura Ries memberikan contoh tentang keberhasilan dari perusahaan Botox dalam memanfaatkan PR. Dia berpendapat bahwa Botox telah memiliki omset sebesar $300 juta tanpa melakukan periklanan. Krispy Kreme juga menjadi perusahaan favorit di Amerika dengan sedikit melakukan periklanan yang tradisional.

2. Pendengar iklan semakin banyak terbagi-bagi
Faktor kedua yang membuat iklan tidak efektif lagi adalah bahwa pemasar menemukan bahwa saat ini untuk mengejar dan menangkap pelanggan potensial lebih sulit karena pendengar semakin banyak terbagi-bagi. Oleh karena semakin banyaknya jumlah stasiun televisi, jumlah stasion pemancar radio, dan media komunikasi lainnya, maka pendengar dibagi-bagi ke dalam kelompok yang lebih kecil. Sehingga hal tersebut membuat pemasar lebih sulit dan tentunya lebih mahal untuk menjangkau satu pendengar dari satu ukuran tertentu. Sebagai contoh, di 200 saluran TV, program perorangan memiliki penonton yang lebih sedikit dibandingkan masa lalu. Fakta penelitian terbaru mengungkapkan bahwa semakin banyak generasi muda yang kurang suka menonton televisi, karena mereka cenderung lebih menyukai bermain video game. Penelitian yang dilakukan oleh AC Nielsen pada tahun 2003 menunjukkan bahwa pemuda usia antara tahun 18 dan 34 yang menonton televisi berkurang jumlahnya sekitar 7.7% dibandingkan satu tahun sebelumnya.

3. Munculnya Personal Televise Recorders (PVRs) atau Digital Video Recorders (DVRs)
Fitur yang paling mengganggu dari alat ini adalah kemampuannya untuk tidak menayangkan (skip or eliminate) iklan yang tidak dikehendaki oleh konsumen, caranya adalah dengan memencet (klik) satu tombol di remote control jika muncul iklan yang tidak mereka kehendaki. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika terdapat beberapa penelitian yang menemukan bahwa untuk mencapai 80% dari konsumen wanita usia 18 sampai 49 tahun, terdapat peningkatan jumlah iklan dari 3 iklan di tahun 1995 sampai 97 di tahun 2000.
Penelitian lain yang ditujukan kepada 112 eksekutif pemasaran dari Asosiasi Periklanan Amerika, menunjukkan bahwa 76% dari responden mengatakan akan mengurangi pembelanjaan iklan ketika PVRs menjangkau 30 juta rumah. Frustasi dengan beberapa kelemahan dari teknik pemasaran yang tradisional, dan munculnya beberapa alat yang dapat membantu penonton untuk tidak menayangkan iklan membuat pemasar perlu memikirkan cara baru dalam menyampaikan komunikasi pemasarannya. Lebih spesifik, mereka harus memikirkan bagaimana caranya menciptakan pesan yang halus sehingga sulit bagi konsumen untuk menolaknya.

Tipe-tipe teknik stealth marketing
Ada beberapa teknik pemasaran yang dapat dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan kompetitif. Enam teknik stealth marketing tersebut adalah: viral marketing; brand pushers; celebrity marketing; bait-and-tease marketing; marketing in video games; and marketing in pop and rap music. Teknik stealth marketing yang berhasil adalah ketika konsumen tidak merasa sadar bahwa ada kesan komersial dibaliknya (Kaikati M.A dan Kaikati G.J, 2004).

1. Viral Marketing
Istilah "viral marketing" diperkenalkan oleh Steve Jurvetson (seorang penanam modal) pada 1996 ketika dia mendeskripsikan strategi pemasaran dari e-mail gratis Hotmail dengan mengirimkan pesan "Get your private, free e-mail from Hotmail at http://www.hotmail.com" bersamaan dengan rekomendasi secara implisit dari si pengirim tentang suatu produk.
Dengan demikian, stealth marketing dalam bentuk viral marketing merupakan "word of mouth" melalui suatu media digital. Pemasaran jenis ini melibatkan penyebaran pesan melalui "word of mouse" dan memastikan bahwa penerima punya daya tarik terhadap pesan tersebut. Setelah mereka tertarik dengan pesan tersebut, diharapkan mereka dapat merekomendasikannya kepada temannya. Mendapat satu rekomendasi pribadi melalui e-mail dari seseorang yang anda ketahui adalah betul-betul lebih terpercaya dibandingkan satu e-mail tanpa nama.
Salah satu contoh dari viral marketing adalah weblogs, atau yang lazimnya dikenal dengan sebutan blogs. Blogs adalah buku harian seperti web sites pribadi dan tempat orang-orang berkomunikasi yang sudah menjadi trend saat-saat ini, khususnya bagi pengguna berusia muda. Tidak seperti halaman web site pribadi lainnya, blogs merupakan buku harian yang sering ditulis oleh para generasi muda yang menjadi trendsetter. Mereka biasanya menulis beberapa pendapat, seperti testimonial dan melakukan update secara teratur. Mereka biasanya berkomentar seputar dasar pemikiran dari pilihan-pilihan mereka terhadap isu-isu yang sedang dibicarakan, kemudian membangun sebuah percakapan yang interaktif.
Mereka juga membangun sebuah link dengan halaman web site dan blogs lainnya yang berisi berbagai macam topik bahasan mulai dari teknologi, media, dan hiburan sampai politik, ekonomi, dan budaya. Pemanfaatan blogs untuk kegiatan pemasaran dilakukan oleh perusahaan Dr. Pepper, sebuah perusahaan yang memproduksi soft-drink. Untuk menarik calon pelanggannya, Dr. Pepper membangun sebuah blogs yang dapat memasarkan produknya secara sembunyisembunyi. Dr. Pepper juga merekrut sejumlah anak muda untuk menjadi bloggers, yang berusia remaja sampai usia 20 tahunan. Sejumlah remaja tersebut terlebih dahulu diminta untuk mengikuti masa orientasi, dengan tujuan supaya mengetahui upaya pemasaran Dr. Pepper melalui blogs, yang diisi dengan pendapat bloggers tentang antusiasme mereka terhadap produk tanpa diketahui banyak orang kalau mereka adalah para pemasar dari Dr. Pepper.

2. Brand Pushers
Brand pushers adalah teknik stealth marketing dengan merekrut aktor dan aktris baru untuk menjangkau calon pelanggan secara pribadi dalam kehidupan sehari-hari dengan memasukkan pesan komersial secara implisit. Para aktor dan aktris yang dipilih ini harus yang memiliki kepribadian yang pandai merangkul orang dan menarik. Tujuan utama dari brand pushers ini adalah untuk menampilkan suatu perilaku yang baik dan menampilkan keunggulan suatu merek produk tanpa diketahui oleh orang lain.
Salah satu contoh perusahaan yang melakukan teknik stealth marketing berupa brand pushers ini adalah Sony Ericsson. Dalam memasarkan produk terbarunya, yaitu kombinasi antara telepon selular dan kamera digital mereka melakukan brand pushers. Mereka merekrut aktor dan aktris baru yang berjumlah 60 orang, mereka melakukan acting seolah-olah sebagai pasangan turis yang sedang melakukan liburan. Cara yang dilakukannya adalah mereka meminta orang lain untuk mengambil gambar mereka dengan menggunakan telepon seluler baru Sony Ericsson tipe T68i, telepon seluler yang dilengkapi dengan fasilitas kamera.
Tujuan dari teknik pemasaran seperti ini adalah untuk melakukan intrik supaya orang lain tersebut mengetahui dengan sendirinya produk high-tech terbaru yang dimiliki Sony Ericson dan membiarkan mereka memiliki pengalaman sendiri dengan fitur-fitur yang ada di telepon seluler tersebut. Dengan cara seperti ini, maka calon konsumen menerima pesan pemasaran dari perusahaan bukan melalui iklan seperti biasanya, tetapi melalui demonstrasi langsung mengenai fitur-fitur produk di dalamnya. Sehingga hal seperti ini terlihat lebih efektif, karena konsumen memiliki pengalaman sendiri dengan produk.

3. Celebrity Marketing
Teknik stealth marketing seperti ini dilakukan dengan merekrut seorang selibritis untuk memasarkan produk perusahaan. Perusahaan mengharapkan ketenaran dari selebritis tersebut untuk mempengaruhi calon konsumen agar mau membeli produk yang dipasarkan.
Contoh kasus dari celebrity marketing ini adalah yang terjadi dalam industri kesehatan. Pada bulan Maret 2002, ketika Lauran Bacall (selebritis di Amerika) di wawancara oleh Matt Lauer, pembawa acara Today Show, dia menyebutkan bahwa salah seorang temannya mengalami sakit mata sebelah yang disebut macular degeneration. Lalu Bacall menyebutkan sebuah obat baru, Visudyne, yang dapat mengobati penyakit tersebut.
Pada bulan Juli 2002, penyanyi rock tahun 70 sampai 80-an, direkrrut oleh perusahaan pembuat alat penurun berat badan, yaitu Lap-Band. Wilson muncul dalam acara di CBS yaitu The Early Show untuk memasarkan alat tersebut. Selanjutnya pada bulan Agustus 2002, aktris Kathleen Turner muncul dalam acara Good Morning America di ABC dan CNN untuk berdiskusi tentang perjuangannya mengobati penyakit rheumatoid arthritis, yang menarik, ketika dia tidak menyebutkan secara khusus nama sebuah perusahaan atau merek, dia merekomendasikan kepada para penonton untuk mengunjungi halaman web yang disponsori oleh Amgen Inc. and Wyeth, yang memproduksi Enbrel, sebuah obat yang dapat mengobati penyakit yang dideritanya.

4. Bait and Tease Marketing
Contoh kasus dari Bait and Tease Marketing ini adalah yang dilakukan oleh BMW. Berdasarkan pengamatan menunjukkan bahwa pembeli mobil BMW adalah orang-orang yang jarang menonton TV, mereka lebih sering mencari informasi dan melakukan transaksi melalui internet. Untuk menjangkau pembeli seperti ini, maka BMW membuat film pendek tentang mobil produksinya, yang hanya bisa dilihat di halaman website, mereka membuat film yang berdurasi antara 5 sampai 7 menit yang terdapat dalam halaman website bmwfilms.com. Dengan cara yang seperti ini pesan iklan yang disampaikan oleh BMW tidak akan dapat dihindari oleh konsumen, karena disebarkan dengan jalan yang agak sedikit memaksa (compelling way), di mana informasi tentang produk hanya tersedia di halaman website.

5. Marketing in Video Games
Pemasaran yang dilakukan melalui video games ini dalam bentuk memasukkan logo perusahaan dalam permainan. Teknik pemasaran seperti ini berbeda dengan pemasaran melalui media televise maupun film. Jika pemasaran melalui media televisi dan film, pesan diterima secara pasif oleh penerima, sedangkan dalam pemasaran melalui video games, penerima pesan lebih aktif karena lebih berinteraksi. Hal inilah yang menyebabkan mengapa pemasaran melalui video games ini pesan yang ingin disampaikan lebih sering dimunculkan.
Salah satu contoh kasus dalam pemasaran melalui media video games ini adalah komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh McDonald’s dan Intel pada games The Sims Online yang diproduksi oleh Elecronic Arts. The Sims Online adalah sebuah game mengenai kehidupan sehari-hari, di mana gamers dapat mengontrol karakter virtual beberapa orang mengenai kehidupan mereka, game ini merupakan versi internetnya (online). Dalam game tersebut para pemain dapat mengoperasikan sebuah komputer yang berlogo Intel dan dapat membeli sebuah makanan di kios McDonald.

6. Marketing in Pop and Rap Music
Teknik pemasaran seperti ini dilakukan dengan memasukkan pesan komersial dalam lagu-lagu yang berirama pop dan rap. Musik rop dan rap telah memiliki hubungan yang dekat dengan komunitas perusahaan. Sebagai contoh, grup musik Four Seasons dan Supremes pernah menyanyikan jingle Coca-cola di pertengahan tahun 60-an. Selain itu, pada tahun 1986, Run D.M.C dibayar oleh Adidas setelah mereka mempromosikan produk adidas dengan menyanyikan lagu yang berujudul “My Adidas”. Pada awalnya pujian terhadap merek yang sudah ada ikut muncul dalam gaya hidup seseorang yang mencintai musik.
Merek menjadi bagian dalam lagu-lagu rap karena pilihan dari artis tersebut terhadap merek yang mereka sukai. Hal ini terbukti ketika artis tersebut menyanyikan lagu rap yang bercerita tentang kehidupannya, mereka juga menceritakan merek yang sudah menjadi bagian dari kehidupannya. Situasi yang ada sekarang saat berubah, beberapa perusahaan lebih bersikap proaktif untuk mencantumkan merek mereka dalam sebuah lagu. Sebagai contoh, Jay-Z menerima tawaran Motorola untuk mempromosikan produk dari Motorola melalui lagu yang dinyanyikannya. Motorola mengklaim bahwa penjualan produk mereka meningkat secara drastic setelah Jay-Z menyebutkan salah satu produk Motorola dalam albumnya.
Contoh yang terdapat di Indonesia adalah apa yang sudah dilakukan oleh KFC. Mereka mensponsori pembuatan album rekaman dari grup band musik “Republik”, padahal mereka bukan perusahaan rekaman. Dalam cd kaset maupun album yang dirilis oleh Republik, terdapat logo KFC di dalamnya.

Permasalahan Etika Dalam Stealth Marketing
Teori-teori etika normatif banyak berbicara mengenai consequentialist dan nonconsequentialist (Hunt dan Vitell, 1993; Kimmel dan Smith, 2001). Teori consequentialist mempertimbangkan seluruh konsekuensi yang akan muncul sebagai dasar untuk membuat penilaian terhadap permasalahan etika. Sedangkan, teori nonconsequentialist fokus pada pertanyaan apakah suatu tindakan itu dapat dikatakan etis atau tidak.
Teori nonconsequentialist ini mempertimbangkan kriteria-kriteria lain selain konsekuensi dalam menilai suatu permasalahan etika, misalnya dari sudut pandang kerohanian ataupun dari sudut pandang moral. Oleh karena itu, dalam menilai suatu permasalahan etika stealth marketing, perlu mempertimbangkan penilaian dari perspektif konsekuensi, yaitu dengan mempertimbangkan seluruh konsekuensi yang akan muncul dari sebuah tindakan dan dari perspektif nonkonsekuensi, yaitu dengan menggunakan penilaian dari sudut pandang kerohanian dan moral. Sebagai contoh, Laczniak dan Murphy (1993) dan Dunfee, et.al (1999) menunjukkan beberapa pertanyaan yang dapat digunakan untuk melakukan penilaian mengenai permasalahan etika, seperti “Apakah tindakan yang dilakukan bertentangan dengan moral yang diterima secara umum? (nonconsequentialist theory),” dan “Apakah tindakan tersebut dapat menimbulkan dampak yang buruk bagi orang maupun organisasi? (consequentialist theory).”
Salah satu pedoman menilai permasalahan etika dalam praktek pemasaran adalah American Marketing Associations’s (AMA’s) Statement of Ethic (Martin dan Smith, 2008). Secara spesifik, contoh dari nilai-nilai etis yang terdapat dalam AMA’s Statement of Ethic tersebut antara lain honesty, fairness, dan openness. Honesty berbicara tentang “kejujuran dalam berhubungan dengan para pelanggan dan stakeholder.” Hal ini menghendaki bahwa dalam memasarkan produknya, para pemasar menceritakan kebenaran dalam setiap situasi dan waktu. Fairness berbicara tentang “mencoba untuk menyeimbangkan antara kebutuhan pembeli dengan kepentingan penjual.” Hal ini menghendaki bahwa dalam menjual dan mengiklankan produknya, para pemasar melakukannya dengan cara yang jelas, termasuk menghindari promosi yang bohong, menyesatkan dan menipu.
Terakhir, openness berbicara tentang “menciptakan keterbukaan dalam praktek-praktek pemasaran.” Hal ini menghendaki bahwa para pemasar berusaha untuk melakukan komunikasi pemasaran secara jelas atau tidak sembunyi-sembunyi kepada seluruh masyarakat. Dalam menganalisis permasalahan etika stealth marketing penulis menggunakan hal-hal seperti deception, intrusion dan exploitation (Martin dan Smith, 2008). Berikut ini adalah analisis yang penulis lakukan.

1. Deception
Deception adalah kecenderungan untuk menipu orang. Hal ini merupakan permasalahan etika, bukan hanya karena tindakannya yang menipu itu sendiri tetapi juga karena konsekuensi yang akan muncul dari tindakan menipu tersebut. Berbohong merupakan suatu kecenderungan untuk menipu. Deception ini termasuk permasalahan etika karena bertentangan dengan ajaran kerohanian dan juga tata nilai moral yang ada di masyarakat. Deception menunjukkan kondisi yang tidak sebenarnya dari suatu keadaan, atau lebih lazim dikatakan sebagai tindakan tipu muslihat. Kondisi seperti ini dapat kita lihat dalam praktek stealth marketing.
Contoh yang nampak adalah pada kasus viral marketing, secara khusus pada testimonial yang disampaikan pada suatu halaman website atau biasa disebut sebagai blog. Kasus di perusahaan Dr. Pepper menunjukkan bahwa terdapat unsur deception dalam pelaksanaan praktek komunikasi pemasarannya. Dalam upaya komunikasi pemasarannya melalui blog mereka merekrut sejumlah remaja. Oleh perusahaan sejumlah remaja ini diminta atau lebih tepatnya disuruh untuk memberikan testimoni mengenai keunggulan produk atau pengalaman mereka mengenai manfaat dari produk perusahaan, seolah-olah mereka sudah pernah menggunakan produk perusahaan.
Hal seperti ini merupakan permasalahan etika karena terdapat unsur deception, mereka melakukan tipu muslihat atau menipu orang-orang yang membaca testimonial dengan menceritakan hal-hal positif dari produk perusahaan. Orang-orang yang membaca testimonial dipengaruhi sedemikian rupa sehingga mereka percaya akan adanya keunggulan produk yang diceritakan, karena mereka menganggap bahwa sejumlah remaja tersebut memiliki pengalaman menggunakan produk, padahal mereka tidak pernah menggunakan produk dari perusahaan.
Contoh lain adalah yang dilakukan oleh Sony Ericson, dalam memasarkan produk terbarunya yaitu handphone berkamera mereka merekrut sejumlah pria dan wanita untuk berperan seolah-olah sebagai pasangan turis. Hal ini termasuk tindakan deception, pertama karena sejumlah pria dan wanita tersebut bisa jadi ada yang bukan merupakan pasangan, kedua mereka bukanlah turis seperti yang yang dilakonkan. Jadi, kedua contoh di atas merupakan praktek komunikasi pemasaran yang tidak etis karena terdapat unsur deception di dalamnya. Pertama, karena mereka melakukan tipu muslihat atau menipu orang. Kedua, karena perusahaan mengajak pemasarnya untuk melakukan kebohongan.


2. Intrusion
Intrusion menggambarkan suatu pelanggaran terhadap privasi atau kebebasan pribadi seseorang. Dalam stealth marketing terdapat permasalahan etika karena dalam prakteknya melanggar privasi atau kebebasan pribadi seseorang.
Contoh yang nampak adalah dalam kasus SonyEricson, the fake tourists atau turis-turis gadungan yang dibayar perusahaan mengganggu privasi turis lain karena menyita waktu mereka yang sedang melakukan rekreasi, dengan melakukan pemasaran secara tersembunyi (stealth marketing). Mereka meminta turis lain untuk mengambil gambar mereka dengan handphone berkamera, yang tujuannya adalah agar turis yang dimintai bantuan tersebut tertarik dengan fitur-fitur yang terdapat dalam handphone yang baru dikeluarkan SonyEricson tersebut.
Contoh lain adalah yang dilakukan oleh perusahaan Dr. Pepper. Mereka melanggar privasi seseorang, karena mereka mengatur kebebasan berpendapat sejumlah remaja yang mereka rekrut. Sejumlah remaja tersebut “dipaksa” untuk mengeluarkan pendapat yang positif saja tentang produk perusahaan, padahal belum tentu mereka setuju dengannya. Stealth marketing yang dilakukan oleh beberapa perusahaan dalam bentuk marketing in music juga mengandung unsur intrusion, karena mereka melanggar kebebasan berekspresi seseorang dalam menciptakan atau menyanyikan lagu.
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, dalam marketing in music ini perusahaan meminta agar nama perusahaan atau produk mereka dimasukkan dalam lirik lagu yang akan diciptakan atau dinyanyikan penyanyi (grup band). Hal ini merupakan indikasi bahwa terdapat intervensi terhadap kebebasan pribadi seseorang berekspresi dalam lagu.

3. Exploitation
Exploitation dalam hal ini menggambarkan pemanfaatan sifat baik seseorang untuk memasarkan produk. Dalam stealth marketing terdapat permasalahan etika karena di dalamnya terdapat unsur exploitation. Contoh kasus yang terdapat dalam perusahaan Sony Ericson menggambarkan unsur exploitation di dalamnya. Mereka memanfaatkan sifat baik dari turis asli dalam melakukan komunikasi pemasarannya. Turis palsu (the fake tourist) meminta turis asli (the genuine tourist) untuk mengambil gambar mereka dengan menggunakan handphone Sony Ericson berkamera. Para turis asli tersebut merespon dengan baik permintaan turis palsu. Sifat baik dari turis asli tersebutlah yang dimanfaatkan Sony Ericson dalam memasarkan produknya.
Kasus dari perusahaan Dr. Pepper juga mengandung unsur exploitation di dalamnya. Kebaikan sifat dari seseorang untuk membantu sesamanya dalam memberikan informasi mengenai produk dimanfaatkan untuk kegiatan yang bersifat komersial atau dengan kata lain interaksi sosial antar orang yang menunjukkan sifat saling membantu dimanfaatkan. Kasus stealth marketing seperti ini tidak etis karena pertama terdapat pemanfaatan sifat baik manusia, dan kedua praktek pemasaran seperti ini lambat laun pasti akan merusak keaslian dari interaksi sosial yang baik antar manusia karena dicampuri oleh hal yang bersifat komersial atau didasari profit-oriented.

BAB III
KESIMPULAN & SARAN

3.1 Kesimpulan
Tidak efektifnya pemasaran tradisional seperti iklan di televisi, radio atau media lainnya membuat perusahaan melaksanakan praktek pemasaran yang lain. Para pemasar melakukan praktek pemasaran yang di luar (outside the box) dari praktek pemasaran seperti biasanya dalam membujuk konsumen. Salah satu yang dilakukan adalah stealth marketing yaitu pemasaran yang dilakukan secara tersembunyi, artinya konsumen tidak tahu dan sadar kalau mereka sedang dibujuk oleh pemasar untuk memiliki minat terhadap produk yang dipasarkannya.
Stealth marketing ini dirasa efektif karena praktek pemasaran seperti ini dapat menghindari atau melewati defense mechanism yang terdapat dalam diri konsumen. Jadi konsumen tidak memiliki antipati terlebih dahulu akan pesan komunikasi pemasaran yang dilakukan pemasar, hal ini terjadi karena konsumen tidak menangkap secara eksplisit pesan tersebut. Kelebihan dari stealth marketing tersebut sayangnya pada kasus-kasus tertentu menimbulkan permasalahan etika di dalamnya.
Tiga hal permasalahan etika yang muncul dalam stealth marketing tersebut antara lain deception, intrusion dan exploitation. Praktek pemasaran stealth marketing tidak etis karena di dalamnya terdapat unsur deception, artinya terdapat unsur penipuan di dalamnya dan lebih berbahaya lagi praktek pemasaran seperti ini mendidik orang untuk berbohong dalam melakukan komunikasi pemasarannya. Stealth marketing juga tidak etis karena di dalamnya terdapat unsure intrusion, artinya terdapat unsur pelanggaran privasi atau kebebasan pribadi seseorang, salah satu contohnya adalah mengekang kebebasan seseorang untuk mengeluarkan pendapat yang sesuai dengan pendapat dirinya. Terakhir, stealth marketing tidak etis karena di dalamnya terdapat unsur exploitation, exploitation yang terdapat dalam kasus-kasus stealth marketing di atas adalah exploitation dalam hal pemanfaatan kebaikan sifat manusia dalam hal interaksi sosial untuk kepentingan komersial perusahaan.

3.2 SARAN
Dari analisis sederhana mengenai permasalahan etika dalam stealth marketing, kami berpendapat ada beberapa implikasi dan saran dari permasalahan ini terhadap pembuat kebijakan publik, pemasar dan konsumen.
Terhadap pembuat kebijakan publik, dalam hal ini pemerintah dan lembaga-lembaga pelindung konsumen memberikan sanksi kepada para pemasar yang melakukan tindakan tidak etis dalam praktek pemasarannya karena hal ini akan membahayakan masyarakat sebagai contoh jika praktek pemasaran yang tidak etis terus-menerus dilakukan maka akan berdampak pada perilaku masyarakat yang tidak sesuai norma dan ajaran kerohanian seperti penipuan, pelanggaran kebebasan pribadi orang lain, dan eksploitasi interaksi sosial untuk kepentingan komersial. Selain itu pembuat kebijakan publik ini juga dapat melakukan kritikan yang terus menerus terhadap stealth marketing supaya masyarkat atau konsumen mengetahui dan memahami praktek-praktek pemasaran yang tidak etis seperti ini, sehingga mereka memiliki atau memperkuat defense mechanism dalam diri mereka masing masing.
Terhadap pemasar atau perusahaan, hendaknya mereka memikirkan dan melakukan cara-cara kreatif dalam praktek pemasarannya tanpa melanggar etika yang sesuai dengan norma dan ajaran kerohanian. Hal ini dituntut adanya Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan, artinya terdapat tanggung jawab sosial perusahaan dalam mendidik nilai-nilai yang positif bagi masyarakat atau lebih spesifik lagi bagi konsumen. Para pemasar juga perlu mempertimbangkan, jika terdapat banyak kritik terhadap praktek pemasaran stealth marketing yang tidak etis yang dilakukan perusahaan, maka hal ini akan berdampak buruk bagi citra perusahaan. Hal ini muncul karena, jika kritikan-kritikan tersebut diketahui oleh umum atau dipublikasikan kepada masyarakat banyak, maka konsumen juga pasti akan mengetahui kecurangan yang dilakukan oleh perusahaan dan tidak menutup kemungkinan mereka akan bersikap skeptik kepada perusahaan beserta produk-produk yang dikeluarkannya.
Terhadap konsumen, praktek pemasaran stealth marketing yang sedang berkembang sekarang ini membuat konsumen harus lebih berhati-hati terhadap bujukan-bujukan tersembunyi dari perusahaan. Konsumen harus lebih kritis terhadap praktek pemasaran yang tidak etis ini, karena jika tidak maka akan mudah sekali terbujuk bukan karena stealth marketing ini dilakukan melalui interaksi sosial, tapi juga karena dilakukan dengan melewati defense mechanism yang dimiliki konsumen (Obermiller dan Spangenberg),

SUMBER : lpks1.wima.ac.id/pphks/accurate/makalah/PR9.pdf

Selasa, 23 Desember 2008

PROPOSAL PENELITIAN RESTORAN STEAK & RIBS KENYOT CORP.

Prabu Teguh Wibowo/10206727/3EA01
Teguhdkk.wordpress.com


Tema Penelitian : Kepuasan konsumen
Judul Penelitian: Pengaruh Promosi Terhadap Kepuasan dan Peningkatan Jumlah Pelanggan Pada Restoran Steak & Ribs Kenyot Corp.



1. Latar Belakang

Dewasa ini, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, dan terbatasnya lapangan pekerjaan, mengakibatkan meningkatnya jumlah pengangguran. Sehingga tak sedikit dari mereka yang mencoba untuk beralih kewiraswasta. Salah satunya yang paling banyak diminati adalah usaha rumah makan / restoran. Hal ini dikarenakan makanan adalah salah satu kebutuhan pokok, dimana setiap manusia selalu membutuhkannya, dan tentunya kebutuhan akan makanan tidak akan pernah ada habisnya..
Adanya banyak rumah makan /restoran tentunya akan menjadi kendala bagi para pengusaha. Dimana akan adanya persaingan diantara mereka, terutama untuk usaha rumah makan yang sejenis. Sehingga tak sedikit dari pengusaha yang mencoba berbagai macam cara guna meningkatkan jumlah pelanggannya, salah satunya adalah dengan cara promosi. Faktor tersebutlah yang mendorong dilakukannya penelitian ini.

2. Perumusan Masalah
Permasalahan dalam penelitian ini antara lain :
• apakah kegiatan promosi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan dan peningkatan jumlah pelanggan pada restoran steak & ribs kenyot corp ?
• Dan dari variabel – variabel promotion, yang terdiri dari kombinasi iklan, sales promotion, dan personal selling, variabel mana yang paling mempengaruhi minat konsumen ?

3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :
• mengetahui pengaruh kegiatan promosi terhadap kepuasan dan peningkatan jumlah pelanggan pada restoran steak & ribs kenyot corp.
• mengetahui varibel mana dari ketiga variabel promotion yang paling mempengaruhi minat konsumen

4. Metode Penelitian
Populasi & Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah para pelanggan restoran steak & ribs kenyot corp. Dimana jumlah populasinya adalah 100 dan jumlah sampelnya adalah 50.
Model
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dimana penulis melakukan penyebaran kuesioner kepada 50 responden yang disebar ke karyawan dan karyawati yang bekerja disekitar restoran steak & ribs kenyot corp.
Dalam penulisan ini peneliti menggunakan skala Likert dan skala peringkat lainnya dalam menilai kepuasan konsumen. Skala Likert yang digunakan peneliti dalam melakukan analisa data yaitu dimana setiap jawaban yang didapatkan akan diberi bobot nilai yang berbeda-beda sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan yaitu:
Untuk kuesioner mengenai kepuasan, maka bobot yang akan diukur sebagai berikut :
Angka 4 = Sangat setuju
Angka 3 = Setuju
Angka 2 = Tidak Setuju
Angka 1 = Sangat tidak setuju
Dari tiap-tiap bobot nilai yang diberikan kepada masing-masing pilihan jawaban kemudian akan dikaitkan dengan jumlah responden.
a. % jumlah responden : jumlah x 100%
50
b. Nilai tertinggi : 4 x 50 = 200
c. Nilai terendah : 1 x 50 = 50
Lalu setelah itu akan dicari Arithmetic Mean (rata0rata hitung) (Anto Dajan, 1986, halaman 115):

Rata-rata hitung = Jumlah bobot nilai
Ni
Dimana Ni adalah jumlah responden yang memilih skala evaluasi tertentu.

Variabel

variable-variabel yang diambil oleh penulis adalah variabel promotion mix seperti kombinasi iklan, sales promotion, dan personal selling.

5. Rancangan Analisis
Uji Chi Square yang digunakan untuk menguji kepuasan konsumen. Kepuasan konsumen diperoleh dengan menghitung frekuensi yang diharapkan (Fh) dengan frekuensi yang dihasilkan oleh kuesioner (Fo). Dan untuk mengetahui atribut yang paling dominant terhadap kepuasan konsumen. Uji Chi Square dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 13.0.

6. Penutup
Kesimpulan

Berdasarkan hasil data yang diperoleh bahwa promosi merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kepuasan konsumen sehingga dapat meningkatkan jumlah pelanggan. Dari 3 variabel promosi yang ada yaitu kombinasi iklan, sales promotion, dan personal selling variabel yang paling mempengaruhi minat konsumen adalah variabel sales promotion dan variabel yang kurang berpengaruh terhadap minat konsumen adalah variabel personal selling.
Saran
Saran peneliti untuk bagian manajemen restoran steak & ribs kenyot corp adalah sebaiknya restoran tersebut melakukan kegiatan promosi guna menarik minat konsumen dan kegiatan promosi yang sebaiknya dilakukan adalah sales promotion. Dimana retoran tersebut melakukan promosi dengan menjual produknya dengan harga yang lebih murah untuk jangka waktu tertentu.

Rabu, 12 November 2008

Ltr blkg & Landasan Teori

USAHA RUMAH MAKAN DI LINGKUNGAN KAMPUS GUNADARMA


3EA01

Disusun Oleh :
· Prabu Teguh Wibowo 10206727
· Mariyah 10206587
· Nita Asyifa 10206682
· Sudarmadi 10206947


UNIVERSITAS GUNADARMA



BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang
Dizaman seperti saat ini, banyak orang-orang yang sulit mendapatkan pekerjaan, untuk itu tak sedikit dari mereka yang mencoba untuk membuka usaha sendiri, atau wiraswasta. Salah satunya yaitu usaha rumah makan. Lingkungan kampus merupakan salah satu tempat yang paling strategis dalam mendirikan dan mengembangkan usaha ini. Namun keuntungan ini pun diimbangi dengan kendala-kendala yang akan dihadapi. Salah satu dari kendala tersebut adalah, adanya persaingan yang cukup ketat antara para pengusaha rumah makan dilingkungan kampus, hal ini dikarenakan mengingat lingkungan kampus merupakan tempat yang strategis dalam mendirikan usaha rumah makan sehingga tak sedikit orang yang berminat atau menginginkan untuk mendirikan rumah makan dilingkungan kampus.
Faktor tersebut mendorong para pengusaha rumah makan utuk melakukan berbagai macam terobosan baru dalam hal pemasaran. Terobosan inilah yang kemudian disesuaikan dengan keinginan konsumen yang mayoritas terdiri dari mahasiswa, dimana terdapat perbedaan keinginan dalam pemilihan rumah makan dengan konsumen dilingkungan luar kampus. Jenis – jenis rumah makan yang biasanya terdapat dalam lingkungan kampus adalah rumah makan padang, warung tegal (warteg), warung makan, dan rumah makan fried chicken. Namun dari kesemua rumah makan tersebut yang paling diminati oleh para mahasiswa adalah warung makan, ini mungkin dikarenakan harga yang ditawarkan pada warung makan cukup murah dibandingkan rumah makan padang, kebersihan yang lebih terjamin dibandingkan rumah makan warteg, dan variasi makanan yang jauh lebih banyak dibandingkan rumah makan fried chicken.
Adanya segmentasi pasar tersebut menjadi latar belakang dilakukannya penelitian ini, sehingga hasil yang diperoleh dapat berguna untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi mahasiswa dalam memilih rumah makan.



Bab II
Landasan Teori

2.1. Kajian Teoritis
Kepuasan adalah reaksi atau perasaan tentang yang diterima dibandingkan dengan realita dari produk dan standard produk. Kepuasan pelanggan adalah sejauh mana anggapan kinerja produk memenuhi harapan pembeli. Bila kinerja produk lebih rendah daripada harapan pelanggan, pembelinya tidak puas. Bila prestasi sesuai atau melebihi harapan, pembelinya merasa amat puas atau gembira. (Kotler, 1994)

2.1.1. Pengertian Jasa
Jasa atau pelayanan merupakan suatu kenerja penampilan, tidak berwujud dan cepat hilang, lebih dap at dirasakan daripada dmiliki, serta pelanggan lebih dap at berpartisipasi aktif dalam proses mengkonsumsi jasa tersebut. Dalam strategi pemasaran, definisi jasa hrus diamati dengan baik, karena pengertiannya sangat berbeda dengan produk berupa barang. Kondisi dan cepat lambatnya pertumbuhan jasa akan sangat bergantung pada penilaian pelanngan terhadap kinerja atau penampilan yang ditawarkan oleh pihak produsen.
Definisi jasa menurut Philip Kotler (2002:488) adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dap at ditawarkan oleh suatu pihak, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apa pun. Produksinya dapat dikaitkan atau tidak dikaitkan pada satu produk fisik.

2.1.1.1. Karakteristik Jasa
Menurut Philip Kotler (2002:488) jasa memiliki empat karakteristik utama yang sangat mempengaruhi rancangan program pemasaran yaitu :

1. Tidak berwujud (intangibility)

Bahwa jasa bersifat tidak berwujud, tidak seperti produk fisik, jasa tidak dapat dilihat, dirasa, diraba, didengar, atau dicium sebelum jasa itu dibeli.





2. Tidak terpisahkan (inseparability)

Umumnya jasa dihasilkan dan dikonsumsi secara bersamaan. Tidak seperti bearing fisik yang diproduksi, disimpan dalam persediaan, di distribusikan melewati berbagai penjual dan kemudian baru dikonsumsi.
2. Bervariasi (variability)
Jasa tergantung pada siapa yang menyediakan serta kapan dan dimana jasa itu diberikan, jasa sangat bervariasi.
3. Mudah lenyap (devishability)
Bahwa jasa tidak bisa disimpan atau daya tahan suatu jasa bergantung pada situasi yang diciptakan oleh berbagai faktor.
2.1.2. Pengertian Produk
Definisi produk menurut Philip Kotler (1997:349). Produk adalah segala sesuatu yang dap at ditawarkan ke pasar untuk mendapatkan perhatian, dibeli, digunakan atau dikonsumsi yang dap at memuaskan keinginan alias kebutuhan.
Menurut Philip Kotler (1997:349) produk dibagi menjadi dua garis besar menurut jenis konsumen yang menggunakannya sebagai berikut :
1. Produk konsumen
Produk yang dibeli konsumen akhir untuk konsumsi pribadi.
2. Produk industri
Produk yang dibeli untuk pemasaran lebih lanjut atau penggunaan yang terkait dengan bisnis.

Dalam produk konsumen pemasar biasanya mengklasifikasikan barang-barang ini menurut cara membeli konsumen produk konsumen meliputi :
1. Produk sehari-hari
Produk dan jasa konsumen yang biasanya sering dan cepat dibeli oleh pelanggan dan disertai usaha yang sedikit dalam membandingkan dan membeli. Misalnya, sabun, permen, koran dan fast food.
2. Produk special
Produk konsumen dengan karakteritik unik atau identifikasi merek yang dicari oleh kelompok pembeli tertentu, sehingga mereka akan mengeluarkan dana khusus untuk mmperolehnya.
3. Produk yang tidak dibeli
Produk konsumen dimana keberadaannya tidak diketahui atau jika diketahui oleh konsumen pun, tidak terpikir untuk mereka untuk membelinya.

2.1.3. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Konsumen Dalam Pemilihan Rumah Makan.

2.1.3.1. Harga
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (1991'.142), harga adalah nilai barang yang ditentukan atau dirupakan dengan uang atau jumlah uang atau alat tukar lain yang senilai yang harus dlbayar untuk produk atau jasa. Menurut Paul S. Bush dan Michael J. Houston (1995.558), harga adalah nilai yang diberikan untuk manfaat yang diterima seseorang dari barang atau jasa. Menurut Kotler (1996:340), harga adalah sejumlah uang yang harus dibayarkan untuk sebuah produk atau jasa, atau jumlah dari nilai-nilai yang ditukarkan konsumen untuk keuntungan yang akan didapat atau kegunaan atas produk danjasa. Menurut Jeffrey D. Fisher (1991 .147), harga adalah sejumlah uang yang dibayarkan atau diminta dalam suatu transaksi khusus. Harga dapat tidak sama
dengan nilai pasar.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa harga adalah nilai dari suatu barang maupun jasa yang dapat dinyatakan dalam perhitungan rnoneter maupun non-moneter yang harus dibayarkan atau dikeluarkan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan dan harga dapat tidak sama dengan nilai.

2.1.3.2. Pelayanan
Pelayanan adalah setiap tindakan, performa, atau pengalaman yang dapat ditawarkan dari seorang ke orang yang lain, yang pada dasarnya tidak nyata dan bukan merupakan hasil dari kepemilikan dari apapun yang diproduksi dan boleh berkaitan atau tidak dengan barang fisik (Lovelock, Peterson, Walker, 2001). Pelayanan adalah aktivitas atau serangkaian aktivitas yang lebih atau kurang nyata dari umumnya, tapi tidak seluruhnya, mempunyai interaksi antara konsumen dan penyedia jasa layanan dan / atau sumber fisik atau barang dan / atau sistem dari penyedia jasa layanan, yang menyediakan sebagai solusi untuk masalah konsumen. (Looy, Gemmel, and Dierdonk, 2003).


2.1.3.3. Volume Makanan
Volume makanan adalah banyaknya makanan yang diberikan. Dalam hal ini volume makanan, termasuk kedalam faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan rumah makan, dikarenakan adanya perbedaan tingkat kepuasan konsumen dalam hal jumlah volume makanan yang diinginkan pada setiap segmen pasar.

2.1.3.4. Kapasitas Tempat
Kapasitas tempat yang dimaksud disini adalah jumlah tempat duduk maupun luasnya rumah makan yang diinginkan konsumen.

2.1.3.5. Variasi Makanan
Variasi makanan adalah banyaknya macam, jenis atau ragam makanan yang ditawarkan oleh penjual.

2.1.3.6. Rasa
Rasa atau kelezatan suatu makanan merupakan faktor yang sangat penting dalam menarik minat konsumen. Biasanya rasa selalu dikaitkan dengan harga suatu barang atau produk. Contohnya kualitas rasa makanan yang tinggi selalu dikaitkan dengan harga makanan yang cukup mahal, dan sebaliknya.

2.1.3.7. Kebersihan
Kebersihan suatu rumah makan baik kebersihan tempat maupun penyajian makanan dapat mempengaruhi minat konsumen. Bahkan beberapa diantara mereka ada yang lebih memilih kebersihan dibandingkan keekonomisan harga.

2.2. Penelitian Sejenis
Judul : Faktor – faktor yang mempengaruhi volume penjualan rumah
makan Bu Pur di Ciracas
Tahun : 2007
Nama Pengarang : Heru Tri Utomo

Hasil Penelitian,
Berdasarkan analisa dan pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa faktor – faktor yang mempengaruhi volume penjualan adalah harga jual, biaya yang dikeluarkan, volume penjualan, kualitas pesaing, selera konsumen, kondisi ekonomi, kenaikan BBM, inflasi, kepuasan konsumen, lokasi, daya beli, pendapatan. Dan faktor yang paling tinggi pengaruhnya adalah kualitas dengan nilai 196. Secara keseluruhan faktor tersebut dinilai setuju oleh responden dengan rata – rata 181,7. Maka cara meningkatkan volume penjualan dengan lebih memperhatikan faktor kualitas, harga jual, dan kepuasan konsumen serta lebih memperhatikan nfaktor yang berada dibawah.

Jumat, 24 Oktober 2008

Tugas metode riset 3

Nama : Prabu Teguh wibowo
Kelas/NPM : 3EA01/10206727
Judul : Hubungan antara kepuasan kerja dengan disiplin kerja karyawan
operator shawing computer bagian produksi pada PT. Primarindo asia
infrastruktur tbk di bandung.
Topik : Pengaruh karakteristik individu, karakteristik pekerjaan dan
karakteristik situasi kerja terhadap motivasi.
Pengarang : Muhaimin
Tahun : 2004
Alamat Website : http://psikologi.binadarma.ac.id/jurnal/jurnal_muhaimin.pdf.



ANALISIS

Variabel penelitian ini terdiri dari variabel bebas (independent variable) yaitu kepuasan kerja, serta variabel tergantung(dependent variable) yaitu disiplin kerja Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan bagian produksi yang berjumlah 100 orang yang tersebar pada masing-masing bagian. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara teknik purposive samping. Data disiplin kerja diperoleh dengan Skala Disiplin kerja dengan menggunakan metode Summated Ratings dari Likert. Uji statistik yang dipakai yaitu uji korelasional, dengan menggunakan koefisien korelasi Rank Sperman (r).
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat didapatkan bahwa t hit > tab (4,99 > 1.684). Dengan demikian, Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini berarti bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara kepuasan kerja karyawan dengan disiplin kerja karyawan pada bagian shawing di PT Primarindo Asia Infrastucture Tbk Bandung. Semakin tinggi kepuasan kerja karyawan, maka semakin baik disiplin kerja karyawan. Sebaliknya, semakin rendah kepuasan kerja karyawan, maka semakin buruk disiplin kerja karyawan.Dari hasil uji korelasional dapat diketahui nilai koefisien determinasi sebesar 38.4% (d = rsx 100%). Hal ini berarti bahwa kontribusi kepuasan kerja terhadap disiplin kerja sebesar 38.5%; dan terdapat 61,5% variansi lain, di luar kepuasan kerja dan tidak dinyatakan dalam penelitian ini, yang mempengaruhi disiplin kerja.
Kemudian tentang hubungan antara kepuasan kerja (aspek Hygiene factor) di peroleh rs= 0,534 dan t hit = 3,99, artinya t hit > tab ( 3,99 >1,684 ). Terhadap hubungan antara aspek hygiene factor dari aspek kepuasan kerja dengan disiplin kerja, didapat d = 28,5. Hal ini berarti aspek hygiene factor memberikan kontribusi sebesar 28,5 %. Dan keterkaitan hubungan antara kepuasan kerja (aspek motivator factor) dengan disiplin kerja diperoleh rs = 0,620 dan t hit = 4,99. Karena hit > t tab ( 4,99 > 1,684 ) maka terdapat hubungan antara aspek motivator factor dari kepuasan kerja dengan disiplin kerja. Serta didapat d sebesar 38,4, hal ini berarti aspek motivator factor memberikan kontribusi sebesar 38,4 % terhadap disiplin kerja karyawan. Dari ketiga hasil penelitian ini ternyata aspek kepuasan kerja baik aspek hygiene factor maupun aspek motivator factor mempunyai korelasi dengan aspek disiplin kerja. Artinya bahwa responden merasa bahwa mereka kurang memiliki kemampuan, dan merasakan kurang dapat diterima dan kurang mendapat perhatian dari lingkungannya. Hal tersebut tentunya akan menyulitkan individu dalam menyesuaikan diri dengan faktor-faktor dalam Hubungan Antara Kepuasan kerja dengan Disiplin kerja.

Tugas metode riset 2

Nama : Prabu Teguh Wibowo
Kelas/NPM : 3EA01/10206727
Pengarang : Sumarjo
Judul : Analisis pengaruh kognisi, budaya kerja, dan kepemimpinan terhadap
kedisiplinan pegawai dikecamatan slogohimo kabupaten wonogiri.
Topik : Pengaruh karakteristik individu, karakteristik pekerjaan, dan
karakteristik situasi kerjaterhadap motivasi.
Alamat Website : http://eprints.ums.ac.id/797/1/Jurnal Daya Saing 1 3.pdf


ANALISIS

Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan cara survey terhadap pendapat responden dengan menggunakan kuesioner yang berisi butir – butir pernyataan. Terhadap data yang telah diperoleh melalui kuesioner, maka langkah awal yang dilakukan adalah melakukan pengujian validitas dan reliabilitas atas butir – butir pertanyaan yang ada dalam kuesioner. Setelah tahapan ini, langkah berikutnya adalah melakukan penskoran dan pengujian hipotesisuntuk mendapatkan jawaban senyatanya. Untuk menguji hipotesis, dilakukan dedngan analisis regresi linier berganda(multiple linear regression) dengan metode OLS (Ordinary Least Square).
Dari hasil pengujian validitas terlihat bahwa untuk variabel kedisiplinan dan budaya tidak satupun butir kuesioner yang memilliki nilai r hitung lebih kecil dari nilai r table. Dengan demikian, seluruh butir dinyatakan valid dan dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut. Untuk variabel kepemimpinan terdapat 6 butir yang dinyatakan tidak valid, yaitu butir yang diberi inisial: pimpin 27, pimpin 33, pimpin 34, pimpin 40, pimpin 54, dan pimpin 57. Sedangkan untuk variabel kognitif terdapat 3butir yang dinyatakan tidak valid, yaitu butir yang diberi inisial: kogni 12, kogni 16, dan kogni 20. Butir yang tidak valid tersebut dikeluarkan atau tidak digunakan untuk analisis pembuktian hipotesis lebih lanjut.
Dari hasil pengujian reliabilitas tampak bahwa semua kelompok butir pada setiap variabel mempunyai nilai r alpha yang lebih besar dari nilai r table yang besarnya 0,1976. Rincian nilai r alpha masing – masing variabel, yaitu: variabel kedisiplinan sebesar 0,8029; variabel kognitif sebesar 0,7354; variabel budaya kerja sebesar 0,7987; dan variabel kepemimpinan sebesar 0,9573. Dengan demikian seluruh butir kuesioner yang ada telah dapat dinyatakan valid dan andal (reliable).
Dari ketiga nilai t hitung dapat diketahui bahwa semua variabel independent tersebut secara individual menunjukan signifikansinya dalam mempengaruhi disiplin kerja pegawai dilingkungan Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri. Nilai F hitung sebesar 9,805 menunjukan bahwa ketiga variabel independent yang ada didalam model tersebut secara serentak signifikan mempengaruhi variabel dependen.

Selasa, 23 September 2008

Tugas Metode Riset

KAJIAN KONDISI MOTIVASI KERJA PEGAWAI PEMERINTAH DAERAH, BIDAN, DAN DOKTER PRAKTIK SWASTA SERTA BEBERAPA VARIABEL YANG MEMPENGARUHINYA DI KABUPATEN JEMBRANA

Ni Wayan Mujiati dan Anak Agung Ayu Sriathi
Jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomi, Universitas Udayana, Denpasar


ABSTRAK

Di Kabupaten Jembrana terjadi perubahan situasi kerja, karakteristik pekerjaan yang diakibatkan oleh perubahan gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh pimpinan tertinggi di kabupaten tersebut. Perubahan tersebut adalah pemberian gaji yang sama untuk pangkat yang sama di berbagai instansi yang ada di Kabupaten Jembrana, memutasikan pegawai dari satu instansi ke instansi lainnya yang dianggap kekurangan pegawai, dan kebijakan baru di bidang kesehatan dengan nama Jaminan Kesehatan Jembrana (JKJ).
Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui kondisi motivasi kerja pegawai pemerintah daerah, bidan, dan dokter praktik swasta di Kabupaten Jembrana; (2) untuk mengetahui lebih tinggi atau tidaknya motivasi kerja pegawai pemerintah daerah sesudah diberlakukannya kebijakan-kebijakan mutasi dan pemberlakuan gaji yang sama di semua dinas di Kabupaten Jembrana; (3) untuk mengetahui lebih rendah atau tidaknya motivasi kerja bidan praktik swasta setelah diberlakukannya Program JKJ di Kabupaten Jembrana; (4) untuk mengetahui lebih tinggi atau tidaknya motivasi kerja dokter praktik swasta antara sebelum dan setelah diberlakukannya Program JKJ di Kabupaten Jembrana; dan (5) untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh signifikan faktor karakteristik individu, karakteristik pekerjaan, dan karakteristik situasi kerja terhadap motivasi kerja pegawai pemerintah daerah, bidan, dan dokter praktik swasta di Kabupaten Jembrana
Teknik analisis yang digunakan untuk menjawab tujuan 1, 2, 3, dan 4 adalah statistik deskriptif, sedangkan untuk menjawab tujuan yang kelima digunakan teknik analisis inferensial, yaitu regresi linier berganda dengan uji F dan uji t serta uji t satu sampel.
Berdasarkan hasil analisis terhadap motivasi kerja pegawai Pemda, ditemukan bahwa motivasi kerja pegawai Pemda di Kabupaten Jembrana berada pada kondisi yang tinggi. Selain itu, motivasi kerja dokter dan bidan praktik swasta juga dalam kondisi yang tinggi. Untuk tujuan penelitian yang kedua dari hasil analisis ditemukan bahwa motivasi kerja pegawai Pemda Jembrana pada pemerintahan kepala daerah yang sekarang lebih tinggi dibandingkan dengan sebelumnya. Untuk tujuan yang ketiga dari hasil analisis ditemukan bahwa motivasi kerja bidan praktik swasta setelah diterapkan program JKJ oleh Pemda Jembrana lebih rendah dibandingkan dengan sebelumnya dan untuk dokter praktik swasta ditemukan bahwa secara umum motivasi kerja setelah penerapan JKJ lebih tinggi dibandingkan dengan sebelumnya. Untuk tujuan yang kelima ditemukan sebagai berikut. Pertama, ada pengaruh simultan semua variabel bebas terhadap variabel terikat untuk semua jenis responden, yaitu pegawai Pemda, bidan, dan dokter praktik swasta. Kedua, ada pengaruh signifikan secara parsial ketiga variabel bebas terhadap variabel terikat pada responden bidan dan dokter praktik swasta. Ketiga, untuk responden pegawai Pemda di Kabupaten Jembrana, ternyata dua variabel bebas, yaitu karakteristik individu dan karakteristik pekerjaan berpengaruh signifikan terhadap motivasi kerja. Hanya satu variable, yaitu karakteristik situasi kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap motivasi kerja pada tingkat signifikansi 0,05, namun berpengaruh signifikan pada tingkat signifikansi 0,056.

Kata kunci : motivasi kerja, karakteristik individu, pekerjaan, dan situasi kerja


STUDY OF WORKING MOTIVATION CONDITION OF LOCAL GOVERNMENT OFFICIALS, MIDWIVES, AND PRIVATE GENERAL PRACTITIONERS, AND SOME VARIABLES AFFECTING THEM
IN JEMBRANA REGENCY


ABSTRACT

In Jembrana Regency a change of working situation has occurred, job characteristics resulting from the change of style of leadership applied by the head of the government in the regency. The change is the giving of the same amount of salary to the officials of the same rank in various institutions that exist in Jembrana Regency, transferring officials from one institution to another which is considered to lack of officials and new policy in the field of health with the name of Jaminan Kesehatan Jembrana -- Jembrana Health Insurance (JKJ)
The aims of this study are: 1) to know the condition of working motivation of local government officials, midwives, and private general practitioners in Jembrana Regency; 2) To know whether the working motivation of the local government officials after the application of the transference policy and giving the same amount of salary in all offices in Jembrana Regency is high or not; 3) To know whether the working motivation of private midwives after the application of JKJ Program in Jembrana Regency is low or not; 4) To know whether the working motivation of private general practitioners before and after the application the JKJ Program in Jembrana Regency is high or not; and 5) to know whether the significant influence of individual, job, and working situation characteristics to working motivation of local government officials, midwives, and private general practitioners in Jembrana Regency exists or not.
The analysis technique employed to answer the aims no 1, and 2 and 3, and 4 descriptive statistics was used and to answer the aim no 5 referential analysis technique was used, that is, multiple linear regression with F and t tests and t test of one sample.
Based on the results of the analysis to working motivation of local government officials it was found out that the working motivation of local government officials lies in high condition. Besides that, working motivation of doctors and private midwives were also in high condition. For the second aim, from the result of the analysis, it was found out that working motivation of the officials of Jembarana Regency Government at the time of the administration of the present regent was higher compared with that of the previous regent. For the third aim from the analysis, it was found out that the working motivation of private midwives after the implementation of JKJ by the regency government was lower than that of the previous administration and for private general practitioner it was found out that generally their working motivation after the implementation of JKJ was higher compared with that before. For the fifth aim it was found out that: First there is simultaneous influence of all free variables against the bound ones for all kinds of respondent, officials of the Regency Government, midwives, private general practitioners. Second, there was significant influence from the three free variables against the bound ones in midwife and private general practitioner respondents. Third, for the official of Jembrana Regency respondents, two free variables, individual characteristics and work characteristics had significant influence to the working motivation. Only one variable, the characteristics of working situations, did not have significant influence to working motivation at the significance level of 0.05 but it had significant influence to the significance level of 0.056.

Key words: working motivation, individual characteristic, work characteristic, and working situations




1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Salah satu aspek dari SDM yang perlu mendapat perhatian adalah motivasi kerja karyawan. Motivasi kerja seseorang dapat berubah karena beberapa factor, antara lain faktor karakteristik individu, karakteristik pekerjaan, dan karakteristik situasi kerja (Porter & Miles dalam Stoner & Freeman, 1989).
Di Kabupaten Jembrana terjadi perubahan situasi kerja, karakteristik pekerjaan yang diakibatkan oleh perubahan gaya kepemimpinan yang diterapkan pimpinan tertinggi di kabupaten tersebut.
Perubahan tersebut adalah sebagai berikut.
(1) Pemberian gaji yang sama untuk pangkat yang sama di berbagai instansi yang ada di Kabupaten Jembrana.
(2) Memutasikan pegawai dari satu instansi ke instansi lainnya yang dianggap kekurangan pegawai yang dievaluasi setiap minggu untuk mengetahui beban kerja di tiap-tiap instansi, sehingga akan terjadi proses mutasi selanjutnya sampai diperoleh beban kerja dan jumlah karyawan yang tepat, sehingga ada perampingan di instansi yang kelebihan pegawai.
(3) Kebijakan baru di bidang kesehatan yang dikenal dengan nama Jaminan Kesehatan Jembrana (JKJ). Masyarakat yang membawa kartu JKJ dan keluarga miskin (Gakin) memperoleh pelayanan kesehatan gratis karena telah dibayarkan oleh Pemda melalui JKJ. Untuk jasa bidan setiap pasien dibayar Rp 4.000,00 dan untuk jasa dokter setiap pasien dibayar Rp 8.000,00. Bidan dan dokter praktik swasta dibatasi ruang lingkup tugasnya, yaitu bidan hanya menangani KB dan ibu hamil dan hanya dokter yang menangani orang sakit.
Dengan kebijakan–kebijakan tersebut diperkirakan akan mempengaruhi motivasi kerja pegawai Pemda, bidan, dan dokter praktik swasta. Di samping itu, faktor-faktor yang diperkirakan mempengaruhi motivasi kerja tersebut adalah karakteristik individu, karakteristik pekerjaan, dan karakteristik situasi kerja.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, yang menjadi pokok permasalahannya adalah sebagai berikut.
(1) Bagaimana kondisi motivasi kerja pegawai pemerintah daerah, bidan, dan dokter praktik swasta di Kabupaten Jembrana.
(2) Apakah motivasi kerja pegawai Pemda lebih tinggi setelah diberlakukannya kebijakan-kebijakan oleh Kepala Pemerintah Daerah Kabupaten Jembrana (seperti mutasi dan pemberlakuan gaji yang sama di semua dinas) dibandingkan dengan sebelumnya.
(3) Apakah motivasi kerja bidan praktik swasta lebih rendah setelah diberlakukannya Program JKJ dibandingkan dengan sebelumnya.
(4) Apakah motivasi kerja dokter praktik swasta lebih tinggi setelah diberlakukannya Program JKJ dibandingkan dengan sebelumnya.
(5) Apakah ada pengaruh signifikan faktor karakteristik individu, karakteristik pekerjaan, dan karakteristik situasi kerja terhadap motivasi kerja pegawai pemerintah daerah, bidan, dan dokter praktik swasta di Kabupaten Jembrana.

1.2 Tujuan Penelitian
(1) Untuk mengetahui kondisi motivasi kerja pegawai pemerintah daerah, bidan, dan dokter praktik swasta di Kabupaten Jembrana.
(2) Untuk mengetahui lebih tinggi atau tidaknya motivasi kerja pegawai pemerintah daerah sesudah diberlakukannya kebijakan-kebijakan mutasi dan pemberlakuan gaji yang sama di semua dinas di Kabupaten Jembrana.
(3) Untuk mengetahui lebih rendah atau tidaknya motivasi kerja bidan praktik swasta setelah diberlakukannya Program JKJ di Kabupaten Jembrana.
(4) Untuk mengetahui lebih tinggi atau tidaknya motivasi kerja dokter praktik swasta setelah diberlakukannya Program JKJ di Kabupaten Jembrana.
(5) Untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh signifikan faktor karakteristik individu, karakteristik pekerjaan, dan karakteristik situasi kerja terhadap motivasi kerja pegawai pemerintah daerah, bidan, dan dokter praktik swasta di Kabupaten Jembrana.

1.3 Manfaat Penelitian
(1) Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Jembrana, baik dalam penerapan kebijakan mutasi, kebijakan JKJ, maupun dalam usaha-usaha peningkatan motivasi kerja pegawai.
(2) Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai wahana dalam membuktikan atau memperkuat teori motivasi kerja dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi motivasi kerja tersebut. Dengan demikian, hasil penelitian ini akan dapat dijadikan sebuah referensi untuk penelitian selanjutnya.

2. METODE PENELITIAN
2.1 Kerangka Pemikiran
Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi kerja dapat digambarkan dengan kerangka pemikiran sebagai berikut.


Karakteristik Individu
(1) Minat
(2) Sikap
(3) Kebutuhan
Karakteristik Pekerjaan
(1) Tanggung Jawab
(2) Tingkat Kepuasan
(3) Tingkat Imbalan Intrinsik
(4) Tingkat Otonomi
(5) Jumlah Umpan Balik
(6) Tingkat Variasi Tugas
Karakteristik Situasi Kerja
(1) Lingkungan Kerja
(2) Kultur Organisasi








MOTIVASI KERJA


















Keterangan :
: Pengaruh Parsial
: Pengaruh Simultan


2.2 Hipotesis
(1) Motivasi kerja pegawai Pemda Kabupaten Jembrana lebih tinggi setelah diberlakukannya kebijakan-kebijakan oleh Kepala Pemerintah Daerah dibandingkan dengan sebelumnya.
(2) Motivasi kerja bidan praktik swasta lebih rendah setelah diberlakukannya Program JKJ dibandingkan dengan sebelumnya.
(3) Motivasi kerja dokter praktik swasta lebih tinggi setelah diberlakukannya Program JKJ dibandingkan dengan sebelumnya.
(4) Ada pengaruh signifikan faktor karakteristik individu, karakteristik pekerjaan, dan karakteristik situasi kerja terhadap motivasi kerja pagawai pemerintah daerah, bidan, dan dokter praktik swasta di Kabupaten Jembrana.

2.3 Identifikasi Variabel
Ada empat faktor yang diteliti pada penelitian yang dapat dipecah menjadi sekitar 35 variabel untuk Pemda dan 32 variabel bidan dan dokter praktik swasta dengan perincian sebagai berikut.
(1) Faktor motivasi kerja akan diturunkan menjadi 11 variabel penelitian yang akan menjadi variabel dependen pada penelitian ini.
(2) Karakteristik individu akan diturunkan menjadi 10 variabel untuk pegawai Pemda dan 10 variabel untuk dokter/bidan.
(3) Karakteristik pekerjaan akan diturunkan menjadi 9 variabel untuk pegawai Pemda dan 7 variabel untuk dokter/bidan.
(4) Karakteristik situasi kerja akan diturunkan menjadi 5 variabel untuk pegawai Pemda dan 4 variabel untuk dokter/bidan.
(5) Selain keempat faktor tersebut diteliti juga 8 variabel untuk melihat kondisi motivasi kerja responden sekarang dibandingkan dengan sebelumnya.

2.4 Definisi Operasional / Pengukuran Variabel
Semua variabel penelitian akan diukur dengan menggunakan Skala Likert dengan empat tingkatan, yaitu sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Dengan demikian, semua variabel penelitian akan diobservasi melalui pendapat/persepsi responden terhadap semua variabel penelitian tersebut.

1. Motivasi Kerja
Motivasi kerja adalah suatu keadaan di mana usaha dan kemauan keras seseorang diarahkan kepada pencapaian hasil-hasil tertentu. Motivasi kerja dalam penelitian ini diukur dari pendapat/persepsi responden tentang hal-hal berikut.
(1) Ketepatan waktu hadir di tempat kerja.
(2) Ketepatan waktu pulang kerja.
(3) Ketepatan waktu dalam menyelesaikan pekerjaan.
(4) Tingkat usaha dalam mencari cara penyelesaian pekerjaan dengan lebih baik.
(5) Tingkat usaha dalam mencari solusi terhadap masalah yang dihadapi dalam pekerjaan.
(6) Tingkat usaha dalam meningkatkan kualitas diri.
(7) Kualitas dari hasil pekerjaan.
(8) Tingkat kemauan untuk mencapai tujuan organisasi.
(9) Tingkat kemauan untuk mencapai produktivitas tinggi.
(10) Tingkat inovasi dalam pekerjaan.
(11) Tingkat kreativitas dalam pekerjaan.

2. Karakteristik Individu
Faktor ini akan diukur dari minat, sikap, dan kebutuhan.
A. Minat adalah sikap yang membuat orang senang akan objek situasi atau ide-ide tertentu. Minat dalam penelitian ini diukur dari pendapat/persepsi responden tentang hal-hal berikut.
(1) Tingkat kesenangan bekerja di Pemda Jembrana.
(2) Tingkat loyalitas sebagai pegawai Pemda Jembrana.
B. Sikap adalah kesiapsiagaan mental yang dipelajari dan diorganisasi melalui pengalaman dan mempunyai pengaruh tertentu atas cara tanggap seseorang terhadap orang lain, objek, dan situasi yang berhubungan dengannya. Sikap dalam penelitian ini diukur dari pendapat/persepsi responden tentang hal-hal berikut.
(1) Tingkat kebanggaan atas statusnya sebagai pegawai Pemda Jembrana.
(2) Tingkat ketidakkhawatiran terhadap kemungkinan kehilangan pekerjaan.
(3) Sikap dalam mendukung usaha pencapaian tujuan organisasi.
C. Kebutuhan adalah jumlah keperluan, baik yang dapat bersifat fisiologis, psikologis, maupun sosiologis. Kebutuhan dalam penelitian ini diukur dari pendapat/persepsi responden tentang hal-hal berikut.
(1) Tentang tingkat kebutuhan pangan.
(2) Tingkat kebutuhan sandang.
(3) Tingkat kebutuhan papan.
(4) Tingkat kebutuhan rohani.
(5) Tingkat kebutuhan sosial.

3. Karakteristik Pekerjaan
Faktor ini akan diukur dari tanggung jawab terhadap pekerjaan, tingkat kepuasan terhadap pekerjaan, tingkat imbalan intrinsik, tingkat otonomi, umpan balik, dan tingkat variasi tugas. Tanggung jawab adalah beban kewajiban yang harus dipikul, baik oleh karyawan maupun pimpinan dalam setiap unit kerja, dalam melaksanakan tugas yang diserahkan kepadanya untuk diselesaikan. Tanggung jawab dalam penelitian ini diukur dari pendapat/persepsi responden tentang tingkat tanggung jawab terhadap pekerjaan yang dipercayakan kepadanya.
A. Tingkat kepuasan dalam penelitian ini diukur dari pendapat/persepsi responden tentang hal-hal berikut.
(1) Kesempatan dalam mengemukakan ide.
(2) Kesempatan mengembangkan diri.
(3) Tingkat kepuasan karyawan terhadap kebijakan-kebijakan pimpinan.
B. Tingkat imbalan intrinsik dalam penelitian ini diukur dari :
(1) Pendapat/persepsi responden tentang kesesuaian imbalan yang diterima dengan kemampuannya dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
C. Tingkat otonomi dalam penelitian ini diukur dari pendapat/persepsi responden tentang:
(1) Tingkat otonomi yang diberikan oleh atasan dalam menyelesaikan pekerjaannya.
D. Umpan balik dalam penelitian ini diukur dari pendapat atau persepsi responden tentang hal-hal sebagai berikut.
(1) Frekuensi pemberian informasi tentang pelaksanaan tugas.
(2) Frekuensi pemberian informasi tentang kualitas hasil dari suatu pekerjaan yang dilakukan.
E. Tingkat variasi tugas dalam penelitian ini diukur dari :
(1) Pendapat/persepsi responden tentang tingkat variasi jenis pekerjaan yang dilaksanakan dalam operasinal pekerjaan.

4. Karakteristik Situasi Kerja
Faktor ini akan diukur dari lingkungan kerja dan budaya/kultur organisasi.
A. Lingkungan kerja dalam penelitian ini diukur dari pendapat/persepsi responden tentang hal-hal berikut.
(1) Kondisi hubungan antara pimpinan dan bawahan.
(2) Kondisi hubungan antar karyawan.
B. Budaya/kultur organisasi dalam penelitian ini diukur dari pendapat/persepsi responden tentang hal-hal berikut.
(1) Tingkat penekanan pimpinan dalam menciptakan suasana kerja yang menyenangkan.
(2) Penghargaan organisasi terhadap potensi karyawan.
(3) Penghargaan setelah menyelesaikan tugas.

2.5 Jenis Data
(1) Data kuantitatif adalah data yang dapat dinyatakan dalam bentuk angka. Dalam penelitian ini ada beberapa data kuantitatif, antara lain jumlah responden menurut umur, pendidikan, jumlah anak yang dimiliki, jumlah responden menurut jabatan.
(2) Data kualitatif adalah data yang tidak dapat dinayatakan dalam bentuk angka. Dalam penelitian ini ada beberapa jenis data kualitatif, seperti jenis jabatan, tingkat pendidikan yang ditamatkan, motivasi kerja, karakteristik individu, karakteristik pekerjaan, dan karakteristik situasi kerja.

2.6 Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua, yaitu data primer dan data sekunder.
(1) Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dan pertama kali oleh peneliti sesuai dengan tujuan penelitiannya. Data primer dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari jawaban responden melalui kuesioner yang dibuat, seperti data motivasi kerja, data karakteristik pekerjaan, karakteristik individu, dan data karakteristik situasi kerja.
(2) Data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti berupa data yang sudah tersedia/data yang sudah diolah sehingga peneliti tinggal menggunakannya saja, misalnya data yang diperoleh dari dokumen, catatan, atau laporan-laporan. Misalnya, data tentang jumlah seluruh pegawai di Pemda Jembrana, data jumlah bidan dan dokter praktik swasta.
2.7 Populasi, Penentuan Sampel, dan Responden Penelitian
Populasi adalah jumlah pegawai pemerintah daerah Kabupaten Jembrana Januari 2005, yaitu sebanyak 5.617 orang.
Dari populasi ini diambil sampel sebanyak 375 orang dihitung menggunakan rumus Slovin dengan nilai kritis sebesar 5%.
N
n =
( 1+N.e2 )
5617 5617
n = =
(1 + 5617 (0,05)2 ) 1 + 5617 x 0,0025
5617
n = = 375 Orang
15,0425


Dari jumlah sampel ini didistribusikan :
- Untuk bidan praktik swasta : 81 orang
- Untuk dokter praktik swasta : 61 orang
- Untuk pegawai Pemda : 233 orang

2.8 Metode Pengumpulan Data
Beberapa jenis metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode wawancara, observasi, dan indepth interview.
(1) Wawancara
Pada penelitian ini jenis wawancara yang digunakan adalah tatap muka langsung dengan responden penelitian dengan menggunakan daftar pertanyaan terstruktur yang telah dipersiapkan sebelumnya. Data yang diperoleh dari metode pengumpulan data ini, antara lain data tentang motivasi kerja, karakteristik individu, karakteristik pekerjaan, dan karakteristik situasi kerja.
(2) Observasi
Pada penelitian ini jenis observasi yang digunakan adalah observasi nonpartisipasi di mana observasi dilakukan terhadap dokumen, catatan, dan laporan dari instansi-instansi yang diteliti. Data yang diperoleh dengan metode ini, antara lain data mengenai jumlah pegawai di berbagai instansi yang diteliti, baik menurut umur, jenis kelamin, pendidikan, maupun jabatan. Observasi juga dilakukan untuk melihat kondisi semangat kerja/motivasi kerja responden.
(3) Indepth interview
Pada penelitian ini wawancara mendalam dilakukan terhadap beberapa responden untuk memperoleh informasi yang lebih mendalam mengenai variabel penelitian, khususnya motivasi kerja responden, pandangan mereka terhadap Program JKJ, kebijakan perampingan pegawai, kebijakan penetapan gaji/kompensasi yang sama di setiap dinas.

2.9 Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
Karena data yang dikumpulkan dalam penelitian menggunakan instrumen, maka instrumen yang dipakai harus memenuhi persyaratan, yaitu validitas dan reliabilitas.
(1) Uji validitas menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment. Korelasi minimum dianggap memenuhi syarat jika r = 0,300 dan kalau lebih kecil dari 0,300,, maka butir pertanyaan dinyatakan tidak valid (Sugiyono, 1999; Azwar, 2001).
(2) Uji reliabilitas menggunakan koefisien korelasi Alpha Cronbach (Azwar, 2001). Koefisien korelasi minimum dianggap memenuhi syarat jika r = 0,600 dan kalau lebih kecil 0,600, maka butir pernyataan dinyatakan tidak reliabel. Untuk menghitung besarnya koefisien korelasi digunakan komputer dengan program SPSS.

2.10 Teknik Analisis Data
Karena data yang dikumpulkan dalam penelitian menggunakan instrumen, maka instrumen yang dipakai harus memenuhi persyaratan, yaitu validitas dan reliabilitas.
(1) Analisis data menggunakan teknik analisis regresi linier berganda yang akan menjelaskan pengaruh beberapa variabel, seperti karakteristik individu, pekerjaan, dan situasi kerja secara serempak dan parsial terhadap motivasi kerja pegawai Pemda, bidan, dan dokter praktik swasta.
(2) Sebelum dilakukan teknik analisis regresi liniear berganda dilakukan uji–uji asumsi klasik.
(a) Uji multikolinearitas
(b) Uji heteroskedastisitas
(c) Uji normalitas
(3) Untuk mengetahui pengaruh serempak dan parsial maka dalam kajian ini digunakan uji F dan uji t.
(4) Untuk menjawab bagaimana kondisi motivasi kerja pegawai Pemda, bidan, dan dokter praktik swasta di Kabupaten Jembrana digunakan analisis statistik deskriptif.
(5) Untuk menjawab tujuan penelitian kedua dan ketiga selain menggunakan statistik deskriptif juga digunakan statistik inferensial yaitu t test satu sampel / satu variabel.

3 HASIL DAN PEMBAHASAN
(1) Kondisi motivasi kerja pegawai pemerintah daerah, bidan, dan dokter praktik swasta
A. Kondisi motivasi kerja Pegawai Pemerintah Daerah Kabupaten Jembrana disajikan dalam Tabel 1.
Dari jawaban responden seperti yang terlihat pada Tabel 1 dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja pegawai Pemda Kabupaten Jembrana berada pada kondisi yang tinggi dengan rata-rata skor di atas 3. Skor yang digunakan pada Skala Likert tersebut dengan 4 tingkatan, yaitu skor 1 berarti motivasi kerja sangat rendah, skor 2 berarti motivasi kerja rendah, skor 3 berarti motivasi kerja tinggi, dan skor 4 berarti motivasi kerja sangat tinggi. Dengan rata-rata skor di atas 3, yaitu tepatnya 3,26 berarti motivasi kerja pegawai Pemda Jembrana berada dalam kategori tinggi. Dari indikator atau variabel yang digunakan untuk melihat motivasi kerja pegawai, memang semua rata-rata skornya di atas 3, namun skor secara tepat bervariasi antara variabel-variabel tersebut. Hal ini berarti bahwa kondisi motivasi kerja dilihat dari tiap-tiap variabel yang ada berbeda satu dengan yang lainnya.

B. Kondisi motivasi kerja bidan praktik swasta di Kabupaten Jembrana disajikan dalam Tabel 2.
Dari hasil penelitian yang diperoleh seperti yang tercantum pada Tabel 2, rata-rata skor untuk seluruh variabel motivasi kerja bidan praktik swasta mencapai 3,39 yang berarti bahwa motivasi kerja bidan praktik swasta pada saat riset dilakukan dalam kondisi yang tinggi. Ini juga berarti meskipun ada perubahan kebijakan di Kabupaten Jembrana mengenai aktivitas bidan praktik swasta, mereka tetap memiliki motivasi kerja yang tinggi. Hal ini secara implisit berarti bahwa mereka dapat menerima kebijakan yang dibuat oleh pemerintah daerahnya.

C. Kondisi motivasi kerja dokter praktik swasta di Kabupaten Jembrana disajikan dalam Tabel 3.
Dari hasil penelitian yang diperoleh seperti yang tercantum pada Tabel 3, rata-rata skor untuk seluruh variabel motivasi kerja dokter praktik swasta mencapai 3,25 yang berarti bahwa motivasi kerja dokter praktik swasta pada saat riset dilakukan dalam kondisi yang tinggi. Namun, kalau dilihat per variabel / indikator ada satu indicator, yaitu selalu berusaha menciptakan kreativitas dalam pekerjaan mencapai skor rata-rata di bawah 3, tepatnya 2,98. Hal itu berarti bahwa dengan kebijakan yang baru ada beberapa dokter praktik swasta yang tidak termotivasi untuk berusaha menciptakan kreativitas dalam pekerjaan.

(2) Analisis tentang lebih tinggi atau tidaknya motivasi kerja Pegawai Pemerintah Daerah Kabupaten Jembrana sebelum dan sesudah penerapan kebijakan baru disajikan dalam Tabel 4.
Dari hasil penelitian yang diperoleh seperti yang tercantum pada Tabel 4 di atas hampir pada semua pernyataan ada responden yang menjawab alternatif tidak setuju dan sangat tidak setuju. Namun, dengan melihat rata-rata skor dan dibandingkan dengan kriteria dari Husein Umar (2004) dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja pegawai Pemda Jembrana yang sekarang berbeda dengan sebelumnya atau motivasi kerja pegawai Pemda sekarang lebih tinggi dibandingkan dengan sebelumnya.

(3) Analisis tentang lebih rendah atau tidaknya motivasi kerja bidan praktik swasta setelah diberlakukannya Program Jaminan Kesehatan Jembrana (JKJ) disajikan dalam Tabel 5.
Dari hasil penelitian yang diperoleh, seperti tercantum pada Tabel 5 juga pada setiap / semua pernyataan ada responden menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju dan rata-rata total skornya hanya 2,40. Dengan menggunakan kriteria seperti yang telah disebutkan ini berarti bahwa ada perbedaan motivasi kerja bidan praktik swasta sekarang dibandingkan dengan sebelumnya atau motivasi kerja bidan praktik swasta sekarang lebih rendah dibandingkan dengan sebelumnya.

(4) Analisis tentang lebih tinggi atau tidaknya motivasi kerja dokter praktik swasta setelah diberlakukannya Program Jaminan Kesehatan Jembrana (JKJ) disajikan dalam Tabel 6.
Dari hasil penelitian yang diperoleh, seperti tercantum pada Tabel 6 untuk semua pernyataan ada responden menjawab tidak setuju dan ada dua pernyataan yang tidak dijawab dengan sangat tidak setuju, yaitu poin dua dan tiga dan rata-rata nilai skor 2,65. Kondisi ini berarti bahwa terjadi perbedaan motivasi kerja dokter praktik swasta setelah diterapkan program JKJ atau motivasi kerja dokter praktik swasta lebih tinggi setelah penerapan JKJ.

(5) Analisis pengaruh karakteristik individu, karakteristik pekerjaan, dan karakteristik situasi kerja terhadap motivasi kerja.
A. Pegawai Pemda Kabupaten Jembrana
(a) Dari uji asumsi klasik dengan menggunkan komputer diperoleh hasil sebagai berikut.
1) Tidak terjadi multikolinieritas variabel bebas yang digunakan dalam model.
2) Tidak terjadi heteroskedastisitas pada model yang digunakan.
3) Variabel bebas yang digunakan berdistribusi normal.
(b) Uji F
Rumusan Hipotesis
Ho : B1 = B2 = B3 = 0 à berarti bahwa tidak ada pengaruh secara simultan variabel karakteritik individu, karakteristik pekerjaan, dan karakteristik situasi kerja terhadap motivasi kerja pegawai Pemda Kabupaten Jembrana.
Hi : Bi ≠ 0, minimal salah satu dari variabel karakteristik individu, karakteristik pekerjaan, dan karakteristik situasi kerja berpengaruh signifikan terhadap motivasi kerja pegawai Pemda Kabupaten Jembrana.
Untuk menyimpulkan / membuktikan hipotesis tersebut akan dilihat nilai F dan tingkat signifikansinya. Dari hasil analisis dapat diketahui nilai F sebesar 36,598 dengan tingkat signifikansi 0,000. Dengan melihat tingkat signifikansi tersebut yang nilainya lebih kecil daripada 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa ketiga variabel tersebut secara simultan berpengaruh signifikan terhadap motivasi kerja pegawai Pemda Kabupaten Jembrana.
(c) Uji t
Hasil uji t dapat dilihat pada Tabel 7.

B. Bidan Praktik Swasta
(a) Dari uji asumsi klasik dengan menggunkan komputer diperoleh hasil sebagai berikut.
1) Tidak terjadi multikolinieritas variabel bebas yang digunakan dalam model.
2) Tidak terjadi heteroskedastisitas pada varian residual dari variabel yang digunakan.
3) Semua variabel penelitian yang digunakan berdistribusi normal.
(b) Uji F
Untuk menguji keberartian model yang digunakan atau untuk melihat ada atau tidaknya pengaruh simultan dari semua variabel bebas yang digunakan dilakukan uji F. Dengan rumusan hipotesis untuk uji serempak seperti yang telah disampaikan sebelumnya (pada responden pegawai Pemda Kabupaten Jembrana), maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh signifikan secara simultan variabel karakteristik individu, karakteristik pekerjaan, dan karakteristik situasi kerja terhadap motivasi kerja bidan praktik swasta di Kabupaten Jembrana. Nilai F pada responden ini sebesar 48,221 dengan tingkat signifikansi 0,000.
(c) Uji t
Hasil uji t dapat diikuti pada Tabel 8.
Dari Tabel 8 dapat dilihat bahwa semua variabel penelitian, yaitu karakteristik individu, pekerjaan, dan situasi kerja berpengaruh positif terhadap motivasi kerja bidan praktik swasta. Dengan melihat nilai signifikansi semua variabel bebas yaitu 0,000, 0,000, dan 0,027 lebih kecil daripada 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa ketiga variabel berpengaruh signifikan terhadap motivasi kerja bidan praktik swasta di Kabupaten Jembrana.

C. Dokter Praktik Swasta
(a) Dari uji asumsi klasik dengan menggunkan komputer diperoleh hasil sebagai berikut.
1) Tidak terjadi multikolinieritas antara variabel bebas yang digunakan dalam model.
2) Tidak terjadi heteroskedastisitas pada model yang digunakan.
3) Variabel bebas yang digunakan berdistribusi normal.
(b) Uji F
Seperti pada responden sebelumnya uji F juga digunakan untuk melihat pengaruh simultan dari kerja variabel bebas terhadap variabel terikat. Nilai F hitung sebesar 36,617 dengan signifikansi 0,000. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa ketiga variable, yaitu karakteristik individu, karakteristik pekerjan, dan karakterstik situasi kerja berpengaruh simultan terhadap motivasi kerja dokter praktik swasta di Kabupaten Jembrana.
(c) Uji t
Hasil uji t dapat dilihat pada Tabel 9.
Dari data yang tercantum pada Tabel 8 dapat disampaikan bahwa ketiga variabel bebas berpengaruh positif terhadap motivasi kerja dokter praktik swasta di Kabupaten Jembrana. Dari nilai signifikansi semua variabel bebas yang lebih rendah daripada 0,05 maka disimpulkan bahwa semua variabel bebas, yaitu karakteristik individu, karakteristik pekerjaan, dan karakteristrik situasi kerja berpengaruh signifikan terhadap motivasi kerja dokter praktik swasta di Kabupaten Jembrana.

4 SIMPULAN DAN SARAN
4.1 Simpulan
(a) Kondisi motivasi kerja responden pegawai Pemda Kabupaten Jembrana berada pada kondisi / kategori yang tinggi dengan rata-rata skor di atas 3. Demikian pula kondisi motivasi kerja bidan dan dokter praktik swasta berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor di atas 3.
(b) Motivasi kerja responden pegawai Pemda Kabupaten Jembrana lebih tinggi setelah diterapkan kebijakan-kebijakan oleh Kepala Pemerintah Daerah Kabupaten Jembrana (seperti mutasi dan pemberlakuan gaji yang sama di semua dinas) dibandingkan dengan sebelumnya.
(c) Motivasi kerja responden bidan praktik swasta lebih rendah setelah diterapkan Program JKJ dibandingkan dengan sebelumnya.
(d) Motivasi kerja responden dokter praktik swasta lebih tinggi setelah diterapkan Program JKJ dibandingkan dengan sebelumnya.
(e) Terdapat pengaruh yang signifikan variabel karakteristik individu, karakteristik pekerjaan, dan karakteristik situasi kerja terhadap motivasi kerja responden pegawai Pemda pada tingkat signifikansi masing-masing 0,000; 0,003; dan 0,056.
(f) Terdapat pengaruh yang signifikan variabel karakteristik individu, karakteristik pekerjaan, dan karakteristik situasi kerja terhadap motivasi kerja responden bidan praktik swasta pada tingkat signifikansi masing-masing 0,000; 0,000; dan 0,027.
(g) Terdapat pengaruh yang signifikan variabel karakteristik individu, karakteristik pekerjaan, dan karakteristik situasi kerja terhadap motivasi kerja responden dokter praktik swasta pada tingkat signifikansi masing-masing 0,001; 0,002; dan 0,007.

4.2 Saran
(a) Pemerintah daerah perlu memberikan sosialisasi kepada pegawai Pemda Kabupaten Jembrana, bidan, dan dokter praktik swasta bahwa mereka tidak perlu merasa khawatir akan kehilangan pekerjaan.
(b) Secara umum pemerintah daerah perlu meningkatkan kompensasi kepada pegawai Pemda agar mereka dapat memenuhi kebutuhan sandang, papan, dan pangan dalam kehidupan mereka.
(c) Pemerintah daerah perlu melakukan lokakarya untuk merancang bagaimana cara meningkatkan variasi tugas pada semua pekerjaan yang ada di Pemda Kabupaten Jembrana. Demikian pula untuk dokter dan bidan praktik swasta.
(d) Pemerintah daerah perlu meningkatkan penghargaan kepada karyawan / pegawai yang telah berhasil menyelesaikan tugas dengan baik.
(e) Pemerintah daerah perlu memberikan penghargaan yang lebih tinggi terhadap potensi yang dimiliki oleh para pegawai sehingga para pegawai akan terdorong untuk meningkatkan kualifikasi yang mereka miliki.
(f) Para dokter praktik swasta perlu memberi dorongan kepada pasiennya agar bersedia memberi informasi tentang kesehatannya, terutama bagi pasien yang berobat ulang sehingga lebih tepat tindakan yang akan diambil oleh para dokter.



Tabel 1
Distribusi Jawaban Responden tentang Kondisi Motivasi Kerja
Pegawai Pemda Jembrana Tahun 2005 Menggunakan 11 Variabel / Indikator
No
Pernyataan
SS
(4)
S
(3)
TS
(2)
STS
(1)
Total
Resp
Total Skor
Rata
-rata
Skor
1.
Selalu berusaha melakukan inovasi dalam pekerjaan
73
154
6
-
233
766
3,29
2
Selalu berusaha menciptakan kreativitas dalam pekerjaan
72
161
-
-
233
771
3,31
3
Memiliki kemauan untuk mencapai tujuan organisasi
74
144
15
-
233
758
3,25
4
Memiliki kemauan untuk mencapai produktivitas tinggi
67
160
6
-
233
760
3,26
5
Mampu menghasilkan pekerjaan yang berkualitas
40
174
18
1
233
719
3,09
6
Selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas diri
92
140
1
-
233
790
3,39
7
Selalu berusaha mencari solusi terhadap masalah yang dihadapi dalam menyelesaikan pekerjaan
100
132
-
1
233
797
3,42
8
Selalu berusaha mencari cara penyelesaian pekerjaan dengan lebih baik
103
130
-
-
233
802
3,44
9
Selalu tepat waktu dalam menyelesaikan pekerjaan
43
168
22
-
233
720
3,09
10
Selalu hadir di tempat kerja tepat waktu
74
144
14
1
233
757
3,25
11
Selalu tepat waktu saat pulang kerja
61
139
24
9
233
718
3,08
Total
799
1.646
106
12
2.563
8.358
3,26
Sumber : Hasil Penelitian, 2005


Tabel 2
Distribusi Jawaban Responden tentang Kondisi Motivasi Kerja Bidan Praktik Swasta di Kabupaten Jembrana Tahun 2005
Menggunakan 11 Variabel / Indikator

No
Pernyataan
SS
(4)
S
(3)
TS
(2)
STS
(1)
Total
Resp
Total Skor
Rata –
rata Skor
1.
Selalu berusaha melakukan inovasi dalam pekerjaan
26
55
-
-
81
269
3,32
2
Selalu berusaha menciptakan kreativitas dalam pekerjaan
32
49
-
-
81
275
3,40
3
Memiliki kemauan untuk mencapai tujuan organisasi
31
50
-
-
81
274
3,38
4
Memiliki kemauan untuk mencapai produktivitas tinggi
37
43
1
-
81
279
3,44
5
Mampu menghasilkan pekerjaan yang berkualitas
31
45
5
-
81
269
3,32
6
Selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas diri
41
40
-
-
81
284
3,51
7
Selalu berusaha mencari solusi terhadap masalah yang dihadapi dalam menyelesaikan pekerjaan
40
41
-
-
81
283
3,49
8
Selalu berusaha mencari cara penyelesaian pekerjaan dengan lebih baik
37
44
-
-
81
280
3,46
9
Bersedia menunggu pasien jika waktu praktik masih tersedia
32
48
1
-
81
274
3,38
10
Selalu hadir di tempat kerja/praktik tepat waktu
28
43
10
-
81
261
3,22
11
Selalu berusaha menyediakan waktu yang cukup bagi pasien yang datang
34
41
6
-
81
271
3,35
Total
369
499
23
-
891
3.019
3,39
Sumber : Hasil Penelitian, 2005


Tabel 3
Distribusi Jawaban Responden tentang Kondisi Motivasi Kerja Dokter Praktik Swasta di Kabupaten Jembrana Tahun 2005
Menggunakan 11 Variabel / Indikator

No
Pernyataan
SS
(4)
S
(3)
TS
(2)
STS
(1)
Total
Resp
Total Skor
Rata –
rata Skor
1.
Selalu berusaha melakukan inovasi dalam pekerjaan
10
44
7
-
61
186
3,05
2
Selalu berusaha menciptakan kreativitas dalam pekerjaan
12
36
13
-
61
182
2,98
3
Memiliki kemauan untuk mencapai tujuan organisasi
10
44
7
-
61
186
3,05
4
Memiliki kemauan untuk mencapai produktivitas tinggi
15
36
10
-
61
188
3,08
5
Mampu menghasilkan pekerjaan yang berkualitas
12
42
7
-
61
188
3,08
6
Selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas diri
37
24
-
-
61
220
3,61
7
Selalu berusaha mencari solusi terhadap masalah yang dihadapi dalam menyelesaikan pekerjaan
28
33
-
-
61
211
3,46
8
Selalu berusaha mencari cara penyelesaian pekerjaan dengan lebih baik
30
31
-
-
61
213
3,49
9
Bersedia menunggu pasien jika waktu praktik masih tersedia
24
33
3
1
61
202
3,31
10
Selalu hadir di tempat kerja/praktik tepat waktu
19
38
4
-
61
198
3,25
11
Selalu berusaha menyediakan waktu yang cukup bagi pasien yang datang
25
36
-
-
61
208
3,41
Total
222
397
51
1
671
2.182
3,25
Sumber : Hasil Penelitian, 2005


Tabel 4
Distribusi Jawaban Responden tentang Kondisi Motivasi Kerja Pegawai Pemda Kabupaten Jembrana yang Sekarang Dibandingkan dengan Sebelumnya, Tahun 2005 dengan Menggunakan 8 Variabel / Indikator

No
Pernyataan
SS
(4)
S
(3)
TS
(2)
STS
(1)
Total
Resp
Total Skor
Rata –
rata Skor
1.
Pada pemerintahan kepala daerah yang sekarang saya lebih bersemangat dalam melakukan pekerjaan dibandingkan dengan sebelumnya
31
156
45
1
233
683
2,93
2
Pada pemerintahan yang sekarang saya hadir lebih tepat waktu di kantor dibandingkan dengan sebelumnya
37
154
40
2
233
692
2,97
3
Pada pemerintahan kepala daerah yang sekarang saya lebih bersemangat untuk melakukan inovasi dalam pekerjaan dibandingkan dengan sebelumnya
33
152
46
2
233
682
2,93
4
Pada pemerintahan kepala daerah yang sekarang saya lebih kreatif dibandingkan dengan sebelumnya

36
143
53
1
233
680
2,92
5
Pada pemerintahan kepala daerah yang sekarang saya lebih bersemangat dalam mencapai tujuan organisasi dibandingkan dengan sebelumnya
26
154
49
4
233
688
2,87
6
Pada pemerintahan kepala daerah yang sekarang saya lebih bersemangat dalam usaha mencapai produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan sebelumnya
31
154
47
1
233
681
2,92
7
Pada pemerintahan kepala daerah yang sekarang saya lebih bersemangat dalam meningkatkan kualitas diri dibandingkan dengan sebelumnya
41
147
44
1
233
694
2,98
8
Pada pemerintahan kepala daerah yang sekarang saya lebih bersemangat dalam mencari solusi terhadap masalah yang dihadapi dalam pekerjaan dibandingkan dengan sebelumnya
44
140
48
1
233
693
2,97
Total
279
1.200
372
13
1.864
5.473
2,94
Sumber : Hasil Penelitian, 2005


Tabel 5
Distribusi Jawaban Responden tentang Kondisi Motivasi Kerja Bidan Praktik Swasta Setelah Penerapan JKJ Dibandingkan dengan Sebelumnya, Tahun 2005 dengan Menggunakan 8 Variabel / Indikator
No
Pernyataan
SS
(4)
S
(3)
TS
(2)
STS
(1)
Total
Resp
Total Skor
Rata –
rata Skor
1.
Dengan diberlakukannya JKJ saya lebih bersemangat melakukan pekerjaan dibandingkan dengan sebelumnya
1
43
29
8
81
199
2,46
2
Dengan diberlakukannya JKJ saya lebih bersemangat dalam menciptakan kreativitas pada pekerjaan dibandingkan dengan sebelumnya
2
41
29
9
81
198
2,44
3
Dengan diberlakukannya JKJ saya lebih bersemangat dalam melakukan inovasi pada pekerjaan dibandingkan dengan sebelumnya
1
39
33
8
81
195
2,41
4
Dengan diberlakukannya JKJ saya lebih bersemangat dalam menghasilkan pekerjaan yang berkualitas dibandingkan dengan sebelumnya
1
42
31
7
81
199
2,46
5
Dengan diberlakukannya JKJ saya lebih bersemangat dalam mencari cara penyelesaian pekerjaan dengan lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya
1
46
28
6
81
204
2,52
6
Dengan diberlakukannya JKJ saya lebih bersemangat dalam pekerjaan karena penghasilan yang saya dapatkan lebih banyak dibandingkan dengan sebelumnya
1
25
33
22
81
167
2,06
7
Dengan diberlakukannya JKJ saya lebih bersemangat dalam menunggu pasien jika waktu praktik masih tersedia dibandingkan dengan sebelumnya
3
36
34
8
81
196
2,42
8
Dengan diberlakukannya JKJ saya lebih bersemangat dalam menyediakan waktu yang cukup bagi pasien yang datang dibandingkan dengan sebelumnya
3
38
33
7
81
199
2,46
Total
13
310
250
75
648
1.557
2,40
Sumber : Hasil Penelitian, 2005
Tabel 6
Distribusi Jawaban Responden tentang Kondisi Motivasi Kerja Dokter Praktik Swasta Setelah Penerapan JKJ Dibandingkan dengan Sebelumnya, Tahun 2005 Menggunakan 8 Variabel / Indikator

No
Pernyataan
SS
(4)
S
(3)
TS
(2)
STS
(1)
Total
Resp
Total Skor
Rata –
rata Skor
1.
Dengan diberlakukannya JKJ saya lebih bersemangat melakukan pekerjaan dibandingkan dengan sebelumnya
10
30
20
1
61
171
2,80
2
Dengan diberlakukannya JKJ saya lebih bersemangat dalam menciptakan kreativitas pada pekerjaan dibandingkan dengan sebelumnya
7
24
30
-
61
160
2,62
3
Dengan diberlakukannya JKJ saya lebih bersemangat dalam melakukan inovasi pada pekerjaan dibandingkan dengan sebelumnya
8
24
29
-
61
162
2,66
4
Dengan diberlakukannya JKJ saya lebih bersemangat dalam menghasilkan pekerjaan yang berkualitas dibandingkan dengan sebelumnya
7
27
25
2
61
161
2,64
5
Dengan diberlakukannya JKJ saya lebih bersemangat dalam mencari cara penyelesaian pekerjaan dengan lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya

9
25
26
1
61
164
2,69
6
Dengan diberlakukannya JKJ saya lebih bersemangat dalam pekerjaan karena penghasilan yang saya dapatkan lebih banyak dibandingkan dengan sebelumnya
7
29
20
5
61
160
2,62
7
Dengan diberlakukannya JKJ saya lebih bersemangat dalam menunggu pasien jika waktu praktik masih tersedia dibandingkan dengan sebelumnya
9
22
27
3
61
159
2,61
8
Dengan diberlakukannya JKJ saya lebih bersemangat dalam menyediakan waktu yang cukup bagi pasien yang datang dibandingkan dengan sebelumnya
8
21
31
1
61
158
2,59
Total
65
202
208
13
488
1.295
2,65
Sumber : Hasil Penelitian, 2005


Tabel 7
Nilai t, Tingkat Signifikansi dari Koefisien Regresi
untuk Semua Variabel Bebas

No
Variabel Bebas
Nilai t hitung
Signifikansi
Koefisien Regresi
1
Karakteristik individu
3,954
0,000
0,313
2
Karakteristik pekerjaan
2,954
0,003
0,265
3
Karakteristik situasi kerja
1,918
0,056
0,281
Sumber : Hasil Penelitian, 2005


Tabel 8
Nilai Koefisien Regresi, Nilai t dan Tingkat Signifikansi
Semua Variabel Penelitian

No
Variabel Bebas
Koefisien Regresi
Nilai t
Signifikansi
1
Karakteristik individu
0,541
4,670
0,000
2
Karakteristik pekerjaan
0,598
4,274
0,000
3
Karakteristik situasi kerja
0,514
2,254
0,027
Sumber : Hasil Penelitian, 2005



Tabel 9
Nilai Koefisien Regresi, Nilai t, dan Tingkat Signifikansi
Semua Variabel Bebas

No
Variabel Bebas
Koefisien Regresi
Nilai t
Signifikansi
1
Karakteristik individu
0,362
3,566
0,001
2
Karakteristik pekerjaan
0,502
3,188
0,002
3
Karakteristik situasi kerja
0,709
2,817
0,007
Sumber : Hasil Penelitian 2005






















DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2000. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Penerbit PT Rineka Cipta.
Azwar, Saifuddin. 2001. Reliabilitas dan Validitas. Edisi Ketiga Cetakan Ketiga. Yogyakarta : Penerbit Pustaka Pelajar.
Cooper, Donald R, Emory C. William (Alih Bahasa, Dra. Ellen Gunawan, M.M. dan Imam Nurmawan, S.E.). 1996. Metode Penelitian Bisnis. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Ghozali, Imam. 2002. Aplikasi Analisis Multivarite dengan Program SPSS. Edisi Kedua. Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Gibson, Irancevich, Donnely. 1997. Organisasi : Perilaku-Struktur-Proses. Edisi Kedelapan. Jakarta : PT Binarupa Aksara.
Gitosudarmo Indriyo dan Mulyono Agus. 1999. Prinsip Dasar Manajemen. Edisi Ketiga. Yogyakarta : BPFE.
Gitosudarmo Indriyo dan Sudito Nyomon. 1997. Perilaku Keorganisasian. Edisi Pertama. Yogyakarta : BPFE.
Gujarti, Damodar N. 1999. Basic Econometric. Third Edition. McGraw-Hill, Inc.
Hani, Handoko, T. 2000. Manajemen. Edisi Kedelapan. Jakarta : PT Binarupa Aksara.
Husein, Umar. 2004. Riset Sumber Daya Manusia dalam Organisasi. Edisi Kedua. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Martoyo Susilo. 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Keempat. Yogyakarta: BPFE.
Nimran, Umar. 1997. Perilaku Organisasi. Surabaya : Citra Media.
Program Pascasarjana Magister Manajemen. 1995. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Penerbit IPWI.
Robbins, Stephen P. 2001. Perilaku Organisasi : Konsep, Kontroversi, Aplikasi, Versi Bahasa Indonesia. Edisi Kedelapan. Jakarta : Penerbit PT Prenhallindo.
Siagian Sondang P. 1994. Teknik Menumbuhkan dan Memelihara Perilaku Organisasional. Jakarta : CV Haji Masagung.
Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 1989. Metode Penelitian Survey. Edisi Revisi. Jakarta : Penerbit LP3ES.
Sriathi, A.A. 2003. ”Hubungan Persepsi Individu dengan Motivasi Kerja Karyawan Perusahaan Jawatan TVRI Stasiun Denpasar” Thesis. Program Magister Manajemen FE Universitas Udayana, Denpasar.
Stoner, James A.F. and Edward Freeman. 1989. Management. Forth Edition. Englewood Chiffts, New Jersey.
Sugiyono. 1999. Metode Penelitian Bisnis. Cetakan Pertama. Bandung : Penerbit Alfabeta.
Wahyuningsih, M.V. Sri. 2002. “Analisis Kontribusi Faktor Motivasi terhadap Semangat dan Kegairahan Kerja Karyawan di PT United Indobali Denpasar”, Thesis. Program Magister Manajemen FE Universitas Udayana, Denpasar.
Wirawan, Nata. 1998. Statistik I. Edisi Pertama. Denpasar: Fakultas Ekonomi, Universitas Udayana.



ANALISIS

Adanya perubahan situasi kerja, karakteristik pekerjaan, yang diakibatkan oleh perubahan gaya kepemimpinan yang diterapkan pimpinan tertinggi di kabupaten Jembrana, mejadi latar belakang si peneliti untuk melakukan penelitian ini. Sehingga menimbulkan masalah apakah kondisi motivasi kerja pegawai pemerintah daerah, bidan, dan dokter praktik swasta di Kabupaten Jembrana lebih tinggi atau lebih rendah dari sebelum adanya perubahan situasi kerja, dan karakteristik pekerjaan. Oleh karena itu dengan latar belakang masalah tersebut, dapat disimpulkan bahawa tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi motivasi kerja pegawai pemerintah daerah, bidan, dan dokter praktik swasta di Kabupaten Jembrana.
Semua variabel penelitian, diukur dengan menggunakan Skala Likert dengan empat tingkatan, yaitu sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Beberapa jenis metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode wawancara, observasi, dan indepth interview. Analisis data menggunakan teknik analisis regresi linier berganda.
Ø Kondisi Motivasi Kerja Pegawai Pemerintah Daerah Kabupaten Jembrana
Kondisi motivasi kerja pegawai Pemda Jembrana yang sekarang lebih tinggi dibandingkan dengan sebelumnya. Lalu berdasarkan uji F dapat disimpulkan bahwa ketiga variabel tersebut secara simultan berpengaruh signifikan terhadap motivasi kerja pegawai Pemda Kabupaten Jembrana. Begitu juga dengan uji T dimana ketiga variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap motivasi kerja pegawai Pemda Kabupaten Jembrana.
Ø Kondisi Motivasi Kerja Bidan Praktik Swasta Di Kabupaten Jembrana
Menurut data yang diperoleh, motivasi kerja bidan praktik swasta di kabupaten Jembrana sekarang lebih rendah dibandingkan dengan sebelumnya. Dan jika dilihat dari hasil uji F dan uji T dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh signifikan dari variabel karakteristik individu, karakteristik pekerjaan, dan karakteristik situasi kerja terhadap motivasi kerja bidan praktik swasta di Kabupaten Jembrana.
Ø Kondisi Motivasi Kerja Dokter Praktik Swasta Di Kabupaten Jembrana
Penerapan JKJ (jaminan kesehatan jembrana) yang dilakukan pada dokter praktik swasta di kabupaten Jembrana menimbulkan motivasi kerja yang lebih tinggi dibandingkan sebelum diterapkannya program JKJ tersebut. Sedangkan berdasarkan hasil uji F, ketiga variable, yaitu karakteristik individu, karakteristik pekerjan, dan karakterstik situasi kerja berpengaruh simultan terhadap motivasi kerja dokter praktik swasta di Kabupaten Jembrana. Dan begitu pula dengan uji T, bahwa semua variabel bebas, yaitu karakteristik individu, karakteristik pekerjaan, dan karakteristrik situasi kerja berpengaruh signifikan terhadap motivasi kerja dokter praktik swasta di Kabupaten Jembrana.
Nama : Prabu Teguh Wibowo
Kelas/NPM : 3EA01/10206727
Pengarang : Ni Wayan Mujiati dan Anak Agung Ayu Sriathi
Tahun : 2007
Judul : Kajian Kondisi Motivasi Kerja Pegawai Pemerintah Daerah, Bidan, Dan Dokter
Praktik Swasta Serta Beberapa Variabel Yang Mempengaruhinya Di Kabupaten Jembrana.
Topik : Pengaruh karakteristik individu, karakteristik pekerjaan, dan karakteristik situasi
Kerja terhadap motivasi kerja.
Alamat website: http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/mujiati-sriathi.pdf